KETIK, BLITAR – Menjelang pemilihan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Blitar yang dijadwalkan berlangsung Senin 19 Mei 2026, dinamika di tubuh organisasi olahraga tersebut kian terasa.
Sejumlah massa bahkan mendatangi Kantor KONI Kota Blitar untuk menyampaikan aspirasi terkait sosok pemimpin yang dinilai layak menakhodai olahraga Kota Blitar ke depan. Mereka berharap ketua terpilih nantinya merupakan figur berintegritas, visioner, kompeten, dan bebas dari persoalan hukum maupun kepentingan pragmatis.
Situasi tersebut mendapat perhatian dari Ketua Umum Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Blitar sekaligus Direktur Revolutionary Law Firm, Mohammad Trijanto.
Baca Juga:
Libatkan Lintas Sektoral, Dindik Pacitan Garap Porseni Tahun Ini Lebih Meriah
Menurut Trijanto, menghangatnya dinamika menjelang pemilihan justru menunjukkan tumbuhnya kesadaran demokrasi di lingkungan olahraga Kota Blitar.
“Ini bagian dari proses demokrasi yang sehat. Justru bagus karena menunjukkan kepedulian insan olahraga terhadap masa depan pembinaan atlet dan prestasi daerah,” ujarnya, Senin 18 Mei 2026.
Baca Juga:
Pladu Wlingi-Lodoyo Dimulai, PJT I Kejar Penggelontoran 600 Ribu Meter Kubik Sedimen
Ia menyebut, pemilihan Ketua KONI Kota Blitar kali ini memiliki makna tersendiri. Sebab, menurutnya, sejak era reformasi 1998 belum pernah terjadi proses pergantian kepemimpinan KONI yang berlangsung dengan atmosfer demokrasi yang begitu terbuka dan kompetitif.
“Momentum ini harus dijaga bersama. Demokrasi di organisasi olahraga harus tumbuh dewasa, tapi tetap dalam koridor etika dan semangat membangun,” katanya.
Trijanto menilai perbedaan pendapat maupun munculnya aspirasi publik merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi. Ia bahkan menyebut dinamika tersebut sebagai bagian dari “dialektika dan romantika organisasi” selama seluruh proses tetap berjalan kondusif.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa pemilihan Ketua KONI bukan hanya sekadar pergantian jabatan struktural. Menurutnya, hasil pemilihan akan menentukan arah pembinaan olahraga prestasi Kota Blitar dalam beberapa tahun ke depan.
Karena itu, ia meminta seluruh pemilik suara benar-benar mempertimbangkan kapasitas, rekam jejak, integritas, hingga visi calon sebelum menentukan pilihan.
“Yang dibutuhkan KONI ke depan adalah sosok yang intelektual, bijaksana, visioner, dan mampu membawa perubahan nyata bagi olahraga Kota Blitar,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya figur pemersatu di tubuh KONI. Ketua terpilih nantinya, kata dia, harus mampu merangkul seluruh cabang olahraga tanpa membeda-bedakan kepentingan kelompok tertentu.
“Ketua KONI harus menjadi milik semua cabang olahraga. Fokus utamanya tetap pembinaan atlet dan peningkatan prestasi,” imbuhnya.
Selain aspek kepemimpinan, Trijanto juga menekankan pentingnya integritas dalam tata kelola organisasi. Mengingat KONI mengelola dana hibah daerah yang bersumber dari APBD, maka transparansi dan akuntabilitas menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
“Pengelolaan organisasi olahraga harus profesional. Ketua KONI harus memahami manajemen organisasi sekaligus memiliki rekam jejak yang bersih,” jelasnya.
Dalam dinamika menjelang pemilihan tersebut, nama Mohammad Trijanto sendiri sempat masuk dalam bursa calon Ketua Umum KONI Kota Blitar. Bahkan, berdasarkan informasi yang berkembang di internal olahraga Kota Blitar, sedikitnya 14 cabang olahraga sempat memberikan dukungan agar dirinya maju sebagai calon ketua umum.
Namun Trijanto memilih tidak melanjutkan pencalonan tersebut. Ia mengaku harus mempertimbangkan aktivitas profesional dan tanggung jawab organisasi lain yang saat ini dijalankannya.
Pemilihan Ketua KONI Kota Blitar kali ini pun dinilai menjadi momentum penting lahirnya babak baru demokrasi organisasi olahraga di Kota Blitar, sekaligus penentu arah kebangkitan prestasi atlet daerah di masa mendatang.