Dapur SPPG di Tengah Bencana Sumatera: Desain Jenius Gerak Kebangsaan

Editor: Mustopa

8 Des 2025 07:00

Thumbnail Dapur SPPG di Tengah Bencana Sumatera: Desain Jenius Gerak Kebangsaan
Oleh: Muhammad Sirod*

Program ketahanan pangan nasional sering dianggap sebagai jaring pengaman jangka panjang. Tapi ketika bencana besar mengguncang seperti banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur, desain itu menjadi berantakan. 

Di saat seperti itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampil sebagai alat cepat tanggap yang nyata: membantu memenuhi kebutuhan dasar makan bagi korban yang kehilangan rumah, akses, dan penghasilan langsung dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi yang terdampak.

MBG yang diibangun melalui titik-titik strategis di seantero negri ini hingga November 2025 telah mengoperasikan lebih dari 12.843 dapur SPPG di seluruh Indonesia. Program ini awalnya dirancang untuk melayani anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Dalam keadaan kebencanaan ia menjadi pusat logistik andalan.

Pasca bencana terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sebanyak 320 SPPG on duty untuk bencana telah difungsikan sebagai dapur darurat bencana: 105 di Aceh; 149 di Sumut dan 66 Sumbar (Data KaBGB, 5/12/2023).

Baca Juga:
SPPG Lajolor Diresmikan, Layani 800 Penerima Manfaat di Singgahan Tuban

Dalam kondisi sekolah libur dan layanan rutin MBG tidak bisa berjalan normal, SPPG menjadi jalur cepat untuk menyediakan makanan bagi mereka yang terdampak.

Dapur Umum yang Efektif di Masa Darurat

Dapur MBG dibangun sejak jauh hari sebagai bagian dari program terbaik cepat ketahanan pangan nasional di era Prabowo Gibran. Infrastruktur dapur, tenaga masak, sistem distribusi dan rantai pasok memang dibangun integratif sejak awal. 

Ketika krisis datang, infrastruktur dan suprastruktur ini tidak perlu terburu-buru dan tergopoh-gopoh dibangun alakadarnya, sesuai situasi bencana seperti biasanya. Ia otomatis dialihkan fungsinya.

Baca Juga:
Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Kepala BGN Dr. Dadan Hindayana menyatakan SPPG “paling siap” saat bencana, karena di setiap unitnya sudah didesain perangkat yang dibutuhkan dalam kebencanaan: juru masak, peralatan dan sistem logistik terlatih.

Kemampuan dapur MBG untuk menyuplai makanan massal 3000-an porsi per hari membuatnya mampu menjangkau banyak orang dalam waktu singkat.

Menurut laporan terkini, 286 dapur MBG melayani sekitar 600.000 pengungsi di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Di Sumut saja, 290.000 paket makanan telah dan terus didistribusikan di sejumlah kabupaten/kota terdampak.

Dua kelebihan penting MBG di saat krisis yaitu keterjangkauan akses dan soal pemanfaat serta mutu makanan. Dapur-dapur ini memudahkan akses masyarakat terdampak karena hadir di banyak titik sehingga mudah menjangkau masyarakat luas dalam waktu singkat sehingga korban tidak perlu membeli atau memasak sendiri dalam kondisi kesulitan akut. 

Di sisi lain, setiap titik SPPG telah disiplin dan terlatih menyiapkan pangan disupervisi oleh tenaga terlatih dalam kebersihan dan gizi terstandard, sehingga jelas membantu menjaga kondisi kualitas gizi dan kesehatan mereka.

MBG sebagai Pilar Ketahanan Pangan 

Prinsip dasar MBG adalah: ketersediaan (availability), akses (access), pemanfaatan (utilization), dan stabilitas (stability). Ketika bencana terjadi, tiga dari empat pilar ini bisa terancam bahkan kesemuanya bila kelembagaan kita belum siap.

Setidaknya MBG membantu menjaga tiga pilar yang ada dalam soal:

Ketersediaan: dapur-dapur SPPG sudah memiliki stok dan sistem logistik terencana di setiap harinya. Ketika distribusi pangan lokal terhenti, MBG bisa langsung menyuplai, karena sudah well trained dalam stock management.

Akses: Dengan dapur darurat yang dikelola SPPG, korban yang kehilangan penghasilan atau fasilitas memasak tetap dapat makan tanpa biaya. Terkadang mereka punya uang juga tidak bisa dibelanjakan karena rusaknya pasar dan pusat ekonomi lokal.

Pemanfaatan: Persiapan makanan oleh tenaga profesional dengan standar kebersihan membantu mencegah wabah penyakit yang sering muncul setelah bencana. SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi) yang diinisiasi KemenKes dan didorong KSP menjadi substantif untuk disegerakan implementasinya. 

Stabilitas: Karena MBG dirancang sebagai program nasional jangka panjang, saat bencana pun kelangsungan suplai bisa dijaga dengan menggunakan dapur eksisting. Mengandalkan Pemda dan BNPB membangun dapur-dapur darurat memerlukan waktu dan biaya yang lebih mahal.

Tak dinyana MBG rupanya telah menjadi instrumen ketahanan pangan yang fleksibel: bisa untuk kepentingan pembangunan dalam keadaan normal dan bisa segera dialihkan sebagai bagian instrumen tanggap darurat.

Tantangan dan Penguatan MBG

Keberhasilan MBG di krisis tidak otomatis menjamin tanpa masalah. Untuk tetap efektif, beberapa aspek perlu diperhatikan, misalnya:

Standar kebersihan dan sanitasi harus dijalankan sesegera mungkin. Sistem distribusi makanan massal rentan terhadap kontaminasi jika air bersih dan prosedur tidak dijaga.

Data penerima manfaat perlu akurat. Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk disegerakan dirampungkan. Korban bencana sering berpindah secara acak sehingga distribusi harus fleksibel dan responsif pada fakta nyata.

Koordinasi antara pemerintah pusat, pemda, dan relawan sangat penting agar MBG bisa menjangkau lokasi paling terdampak. Desain awal BGN melibatkan Pemda sangat jelas manfaatnya terlihat saat ini. Langkah strategis yang jenius sejak awal.

Ketersediaan bahan makanan pokok dan komoditas, terutama di daerah remote jelas harus dijaga agar dapur MBG bisa terus beroperasi. Artinya MBG men-drive sistem logistik nasional.

Karena krusialnya titik-titik SPPG, para pihak mesti mulai memperhitungkan keberadaan SPPG ini menjadi titik strategis bagian dari logistik pangan andalan.

MBG sebagai Pilar Darurat Ketahanan Pangan

MBG telah menunjukkan peran penting ketika sistem pangan lokal runtuh akibat bencana. Infrastruktur dan jaringan SPPG memungkinkan distribusi makanan bergizi dengan cepat dan efisien.

Fakta 286 dapur aktif dan ratusan ribu porsi yang sudah disalurkan membuktikan bahwa MBG menjaga akses pangan dan kesehatan korban bencana Sumatera. 

MBG telah menjadi alat mitigasi bencana dan sekaligus jaring pengaman sosial yang terbukti nyata. Perencanaan jangka panjang, infrastruktur mapan, dan fleksibilitas operasional membuatnya layak menjadi bagian inti dari strategi tanggap bencana nasional.

Ke depan, menjaga mutu, kebersihan, koordinasi, dan kesinambungan distribusi adalah kunci agar MBG tetap efektif bukan hanya sebagai program regular, tetapi sebagai penyelamat pangan dan harapan saat krisis melanda.

*) Muhammad Sirod merupakan Tenaga Ahli BGN sekaligus WasekJen Gizi DPN HKTI

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Keberuntungan Zodiak Menyambut Tahun Baru 2026

Baca Selanjutnya

KH. A. Washil Hasyim - KH. M. Widadi Rohim Resmi Terpilih Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep

Tags:

opini MBG SPPG bencana sumatera Muhammad Sirod

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar