KETIK, JAKARTA – Fenomena gerhana bulan selalu menarik perhatian banyak orang. Saat bulan perlahan menggelap hingga tampak kemerahan, tidak sedikit yang mengaitkannya dengan berbagai mitos turun-temurun.
Padahal secara ilmiah, gerhana bulan merupakan peristiwa astronomi yang dapat dijelaskan secara sederhana.
Menurut badan antariksa Amerika Serikat, NASA, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangan Bumi menutupi Bulan.
Dalam penjelasan resminya, NASA menyebutkan:
“A lunar eclipse occurs when the Sun, Earth, and Moon align so that the Moon passes into Earth’s shadow.”
Artinya, gerhana bulan terjadi saat Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi.
Fenomena tersebut murni peristiwa alam dan sama sekali tidak berkaitan dengan tanda-tanda mistis, bencana, ataupun kejadian tertentu di Bumi.
Mitos-Mitos Gerhana Bulan yang Masih Dipercaya
Meski ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, sejumlah mitos tentang gerhana bulan masih dipercaya di berbagai daerah.
1. Bulan Dimakan Makhluk Gaib
Di berbagai budaya kuno, gerhana dipercaya terjadi karena makhluk raksasa memakan bulan. Di Nusantara, dikenal kisah Batara Kala yang menelan bulan. Sementara dalam mitologi Tiongkok kuno, naga langit disebut sebagai penyebab gerhana.
Padahal, secara ilmiah, gerhana terjadi akibat bayangan Bumi yang menutupi Bulan.
2. Ibu Hamil Dilarang Keluar Rumah
Sebagian masyarakat masih percaya bahwa ibu hamil tidak boleh keluar rumah saat gerhana karena dikhawatirkan bayi lahir prematur, cacat, atau memiliki tanda tertentu.
Namun hingga kini, tidak ada bukti medis maupun penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa gerhana bulan berdampak pada kondisi janin.
3. Pertanda Kematian atau Musibah
Dalam sejarah Eropa dan sebagian wilayah Asia, gerhana kerap dikaitkan dengan kematian raja atau datangnya bencana besar.
Faktanya, tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan hubungan antara gerhana bulan dengan peristiwa musibah atau kematian seseorang.
4. Gerhana Bulan Membawa Energi Negatif
Sebagian orang modern mengaitkan gerhana dengan perubahan energi spiritual atau emosi manusia yang menjadi tidak stabil.
Namun, tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa gerhana bulan memengaruhi kondisi psikologis manusia.
5. Harus Memukul Kentongan agar Bulan Kembali
Di beberapa budaya tradisional, masyarakat memukul kentongan, gong, atau alat musik keras untuk “mengusir” makhluk yang dianggap memakan bulan.
Tradisi ini pernah dilakukan di sejumlah wilayah Asia, termasuk Tiongkok dan Nusantara.
Mitos-mitos gerhana bulan lahir dari keterbatasan pengetahuan manusia pada masa lalu. Di era modern dengan kemajuan ilmu astronomi, fenomena ini bahkan dapat diprediksi secara akurat hingga hitungan detik.
Memahami gerhana secara ilmiah tidak berarti menghapus nilai budaya yang ada. Justru, hal ini membantu masyarakat membedakan antara tradisi dan fakta ilmiah, sehingga tidak lagi terjebak pada anggapan yang keliru.
Gerhana bulan bukan pertanda musibah, melainkan salah satu fenomena alam yang menunjukkan keteraturan sistem tata surya. (*)
