KETIK, BLITAR – Peringatan Hari Kartini tak lagi sekadar seremoni tahunan. Di Kabupaten Blitar, momen ini justru menjadi ruang refleksi sekaligus pengingat bahwa perjuangan emansipasi belum selesai ia terus hidup dalam langkah-langkah kecil yang konsisten, Selasa 21 April 2026.

Sosok Raden Ajeng Kartini dikenang sebagai pelopor kesetaraan perempuan di Indonesia. Lewat gagasannya tentang pendidikan dan kemerdekaan berpikir, Kartini membuka jalan bagi perempuan untuk berdiri sejajar tidak hanya di ruang domestik, tetapi juga dalam ruang publik dan pengambilan keputusan.

Semangat itulah yang kini dirasakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati. Baginya, Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan tentang menakar kontribusi diri sebagai perempuan di masa kini.

“Setiap 21 April itu jadi momen saya bertanya ke diri sendiri apa yang sudah saya lakukan sebagai perempuan, bukan hanya untuk keluarga, tapi juga untuk masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga:
Inda Raya, Kartini Modern dari Madiun yang Moncer di Dunia Politik

Christine menggambarkan suasana sederhana di pagi Hari Kartini. Tanpa seragam dinas, para pegawai tampil dengan busana warna-warni.

Namun di balik itu, terselip obrolan reflektif yang sarat makna. Mereka sepakat bahwa Kartini adalah pembuka jalan, sosok yang membuat perempuan hari ini bisa bermimpi lebih jauh.

Menurutnya, tanpa keberanian Kartini memperjuangkan pendidikan dan kebebasan berpikir, perempuan Indonesia mungkin tidak akan berada di posisi sekarang punya suara, kesempatan, dan ruang untuk berkontribusi.

“Kita patut bersyukur, karena hari ini perempuan masih punya ruang untuk berperan dalam pembangunan. Itu tidak datang begitu saja,” katanya.

Baca Juga:
Cinta Budaya dan Nilai Juang, Pekerja BRI Kotapinang Kenakan Batik di Hari Kartini

Di tingkat daerah, ia juga mengapresiasi kepemimpinan Kabupaten Blitar yang dinilai memberi ruang luas bagi perempuan untuk menduduki posisi strategis, termasuk sebagai kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Kesempatan itu, lanjut Christine, bukan sekadar simbol kesetaraan, melainkan bentuk kepercayaan yang harus dijawab dengan kerja nyata.

“Perempuan hari ini bisa berbuat banyak untuk keluarga, lingkungan, bahkan negara. Dan setiap perempuan itu hebat, dengan caranya masing-masing,” tutupnya.

Di Blitar, semangat Kartini tak lagi hanya dikenang dalam kalimat ia tumbuh, pelan tapi pasti, dalam tindakan. Seperti cahaya yang tak pernah padam, dari gelap menuju terang.(*)