KETIK, BATU – Bursa calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Batu mulai menghangat menjelang berakhirnya masa bakti kepengurusan 2022–2026.

Salah satu nama yang mencuat adalah Suwito, S.H., M.H., Ketua Cabang Olahraga (Cabor) Kurash Kota Batu. Dengan latar belakang sebagai mantan atlet sekaligus pengurus olahraga, Suwito menawarkan gagasan pembenahan tata kelola organisasi dan peningkatan prestasi atlet melalui visi "Membangun Prestasi Tanpa Korupsi".

Ia membawa komitmen untuk memperkuat pembinaan olahraga sekaligus menciptakan tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel.

Menurut Suwito, prestasi olahraga tidak dapat diraih secara instan. Dibutuhkan sistem pembinaan yang berkelanjutan, disiplin latihan yang kuat, serta dukungan organisasi yang profesional.

"Prestasi lahir dari proses panjang yang dibangun melalui latihan rutin, kedisiplinan, dan semangat juang yang terus dijaga. Medali bukan sekadar simbol kemenangan, melainkan penghargaan atas kerja keras dan konsistensi atlet dalam menjalani proses pembinaan," ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Baca Juga:
Pilkades Serentak Kota Batu Mulai Dimatangkan, DPRD Minta Pemetaan Potensi Konflik

Ia menilai KONI harus menjadi motor penggerak pembinaan olahraga yang mampu mendorong seluruh cabang olahraga berkembang secara merata.

Karena itu, apabila mendapat kepercayaan memimpin KONI Kota Batu, dirinya berkomitmen memperkuat sistem pembinaan atlet sejak usia dini hingga level prestasi.

Selain fokus pada pencapaian prestasi, Suwito juga menyoroti pentingnya integritas dalam pengelolaan organisasi olahraga.

Visi "Membangun Prestasi Tanpa Korupsi" yang diusungnya menekankan pentingnya transparansi dalam penggunaan anggaran, pemerataan pembinaan, serta pengelolaan organisasi yang bebas dari praktik penyimpangan.

Baca Juga:
Jadi Inspirasi, Pustaka Arjuna Sabet Juara 1 Perpustakaan Desa Kota Batu 2026

"Kami ingin memastikan seluruh proses pembinaan, pengelolaan pendanaan, hingga program peningkatan prestasi berjalan secara terbuka, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan," katanya.

Dengan demikian, lanjut Suwito, atlet dan pengurus cabang olahraga dapat fokus mengejar prestasi tanpa dibebani persoalan lain.

Pengalamannya sebagai mantan atlet bela diri turut membentuk pandangannya terhadap dunia olahraga. Suwito mengaku memahami secara langsung tantangan yang dihadapi atlet, terutama dalam memperjuangkan prestasi di tengah keterbatasan dukungan.

"Waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan sering kali tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima. Karena itu, kesejahteraan atlet dan jaminan masa depan mereka harus menjadi perhatian serius," ungkapnya.

Menurutnya, atlet merupakan aset daerah yang perlu mendapatkan dukungan maksimal, tidak hanya saat bertanding, tetapi juga setelah menyelesaikan karier olahraga mereka.