KETIK, SITUBONDO – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Pemkab Situbondo, Jawa Timur membuka posko pengaduan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Situbondo yang terdampak perang Iran dan Israel, di kawasan Tumur Tengah, Kamis, 5 Maret 2026.
Langkah ini diambil setelah Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menerima laporan langsung dari seorang PMI asal Situbondo saat siaran langsung di platform TikTok Bupati Situbondo.
“Saat saya Live TikTok, ada satu orang dari Oman yang terdampak perang. Dia melaporkan langsung secara live. Atas dasar itu saya perintahkan Kepala Dinas Tenaga Jerja Situbondo untuk membuat posko pengaduan, baik online maupun offline,” kata Bupati Muda Situbondo yang akrab dipanggil Mas Rio itu.
Informasi terkini, kata Mas Rio, bahwa yang bersangkutan berada di penampungan bersama empat orang lainnya. Hal ini disampaikan perwakilan keluarga saat melapor ke Posko Pengaduan Disnaker Situbondo.
“Hingga saat ini sudah ada tiga PMI asal Situbondo yang terdata berada di wilayah terdampak konflik. Namun, saya yakin jumlah tersebut bisa bertambah. Untuk itu, saya minta Disnaker aktif mencari informasi. Saya yakin banyak Pekerja Migran Indonesia asal Situbondo yang bekerja di Timur Tengah,” tutur Mas Rio.
Tak hanya itu yang disampaikan Mas Rio, namun ia menegaskan, pemerintah daerah akan berupaya melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk KJRI maupun KBRI di negara setempat, serta berkoordinasi dengan kementerian terkait di pemerintah pusat.
“Rencana kan saya besok akan bertemu Menteri PPMI. Dalam konteks komunikasi antarnegara ini tentu menjadi kewenangan pemerintah pusat. Tapi, Pemkab Situbondo siap mendukung, termasuk apabila dibutuhkan bantuan tiket atau fasilitasi lainnya,” tegas Mas Rio.
Ia menambahkan, persoalan ini bukan semata soal status legal atau ilegal, melainkan soal kemanusiaan.
“Warga Situbondo ada di luar negeri dan terdampak perang, ini soal kemanusiaan,” pungkas Mas Rio.
Sementara itu, laporan ke Posko Pengaduan juga datang dari keluarga PMI atas nama Sri Wahyuningsih (40), warga Kampung Setonggak RT/RW 003, Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan, Situbondo. Pihak keluarga menyebut Sri Wahyuningsih bekerja di Dubai dan saat ini berada di Oman.
Menurut keterangan keluarganya, Sri Wahyuningsih mengaku berada di sebuah penampungan bersama empat orang lainnya. Dia menyebutkan berada di wilayah yang dinilai rawan dampak konflik. Oleh karena itu, Keluarga Sri Wahyuningsih melaporkan ke Posko Pengaduan Disnaker Situbondo.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Situbondo melalui Kabid Bina Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Situbondo, Ery Sandhi, menyampaikan bahwa pembentukan posko ini bertujuan mendata PMI asal Situbondo yang bekerja di wilayah rawan konflik.
“Tujuan pertama posko ini adalah mendata PMI asal Situbondo yang bekerja di Timur Tengah yang notabene rawan konflik. Setelah itu, kami akan bersurat ke BP3MI Jawa Timur dan P4MI Banyuwangi untuk diteruskan ke kementerian pusat,” ujar Ery.
Menurut Ery, pihaknya juga telah menerima kontak KBRI di sejumlah negara Timur Tengah dari BP3MI Jawa Timur dan terus menjalin komunikasi intensif.
“Kami terus berkomunikasi dengan BP3MI Jawa Timur dan P4MI Banyuwangi terkait hal ini. Kami yakin KBRI di sana juga tidak tinggal diam. Posko ini dibentuk wujud pelayanan dan perlindungan kami terhadap Pekerja Migran Indonesia asal Kabupaten Situbondo,” jelasnya.
Tak hanya itu yang disampaikan Ery, tapi Disnaker mengimbau kepada keluarga PMI yang memiliki anggota keluarga yang bekerja di wilayah Timur Tengah, khususnya yang terdampak konflik, agar segera melapor ke posko pengaduan baik secara langsung maupun melalui layanan daring yang disediakan.
“Pemerintah Kabupaten Situbondo memastikan akan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat demi keselamatan PMI asal Kabupaten Situbondo tersebut,” pungkas Ery. (*)
