KETIK, MALANG – Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) kembali mencuri perhatian di tingkat nasional lewat prestasi yang nggak main-main. Tim dari Program Studi S1 Teknik Sipil UM sukses meraih Juara Metode Perakitan Terbaik sekaligus Juara 2 Umum dalam ajang Fondasi Steel Bridge Competition 2026 yang digelar oleh Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS).

Tim ini diisi oleh Mohammad Arinal Haq Gyanendra, Rizqie Muhammad Zulfan, dan Muhammad Iqbal Maulana. Mereka berhasil menunjukkan performa unggul, mulai dari kemampuan teknis, inovasi desain, sampai kekompakan tim selama kompetisi berlangsung.

Sejak awal perlombaan, tim UM sudah terlihat menonjol. Mereka menggunakan pendekatan desain berbasis teknologi dengan memanfaatkan software seperti SAP2000 untuk analisis global dan Idea Statica untuk mengoptimalkan sambungan. Nggak cuma itu, mereka juga menerapkan Building Information Modeling (BIM) hingga level 5D, yang membuat perhitungan material dan RAB jadi lebih cepat dan akurat.

Dari sisi inovasi, tim ini mengangkat konsep sustainable and regenerative future. Mereka mengembangkan smart self-healing coating system yang bisa memperbaiki kerusakan secara mandiri, serta memanfaatkan steel slag asphalt mixture sebagai solusi limbah industri. Untuk pemantauan struktur, mereka juga menggunakan Structural Health Monitoring System (SHMS) berbasis Distributed Fiber Optic Sensing (DFOS) supaya kondisi jembatan bisa dipantau secara presisi.

Nggak berhenti di situ, teknologi digital twin juga dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan berbasis data real-time. Bahkan, mereka menggunakan thin film photovoltaics system sebagai sumber energi alternatif. Semua inovasi ini jadi nilai tambah yang kuat, terutama dalam menjawab tantangan infrastruktur masa depan yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga:
Kuliah Kebangsaan, Prof Hariyono Tekankan Pentingnya Keberanian Moral dan Intelektualitas Mahasiswa UM

Proses perakitan jembatan oleh tim UM yang berhasil diselesaikan dalam waktu 52 menit, menjadi yang tercepat dalam kompetisi tingkat nasional tersebut. (Foto: Humas UM)

Masuk ke tahap perakitan, tim UM kembali menunjukkan kualitasnya. Mereka menerapkan analisis risiko yang matang dengan pembagian tugas yang jelas. Penggunaan alat bantu seperti perancah dan mal dari pipa PVC juga membantu mempercepat proses sekaligus menjaga akurasi.

Persiapan yang mereka lakukan pun nggak setengah-setengah. Tim ini sudah latihan perakitan sebanyak dua kali dengan durasi rata-rata 40–50 menit, jauh lebih cepat dari batas waktu tiga jam yang ditentukan panitia. Saat hari kompetisi, mereka bahkan berhasil menyelesaikan perakitan hanya dalam waktu 52 menit dan menjadi tim tercepat.

Meski di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi, mereka tetap bisa menjaga fokus dan konsistensi.

Baca Juga:
Belum Genap 10 Tahun, Prodi Teknik Industri UM Raih Akreditasi Unggul

“Kuncinya adalah meluangkan waktu, bukan mencari waktu,” ujar Iqbal.

Dosen pembimbing mereka, Nur Latifah Khomsiati, S.T., M.T., juga menilai capaian ini tidak lepas dari kemampuan mahasiswa itu sendiri.

“Kemampuan mereka sudah sangat baik, saya hanya memberikan arahan dan validasi,” ujarnya. 

Ia juga mengingatkan mahasiswa lain agar lebih aktif di luar kegiatan akademik. 

“Jangan sampai empat tahun kuliah hanya fokus pada materi di kelas,” ujarnya.

Prestasi ini bukan cuma jadi kebanggaan bagi UM, tapi juga punya dampak lebih luas. Inovasi yang mereka kembangkan turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 9 tentang Industry, Innovation and Infrastructure dan poin 12 tentang Responsible Consumption and Production.

Lewat capaian ini, mahasiswa Teknik Sipil UM membuktikan kalau generasi muda Indonesia punya potensi besar untuk bersaing dan menghadirkan solusi inovatif di tingkat nasional. Sekaligus mempertegas posisi UM sebagai kampus yang konsisten melahirkan inovator masa depan.(*)