KETIK, SURABAYA – Musim kemarau pada Agustus hingga September 2026 terus dipantau Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG). Sebab, musim kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Niño yang berdampak pada pola cuaca di Indonesia.
Pada Agustus 2026, kondisi musim kemarau masih dipengaruhi fenomena El Niño. Dampaknya diperkirakan meningkatkan potensi kekeringan, meski hujan ringan masih berpeluang terjadi secara lokal.
Dalam sepekan ke depan, hujan ringan masih berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra, Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur.
“Bila terjadi hujan, hanya berskala lokal dan intensitas ringan. Hujan lokal tersebut terjadi di Jatim termasuk di Kota Surabaya,” kata Andrie Wijaya, Prakirawan BMKG Stasiun Juanda kepada Ketik.com, Kamis, 6 Agustus 2026.
Pada Agustus 2026, Jawa Timur belum memasuki puncak musim kemarau. Namun BMKG terus melakukan monitoring kondisi cuaca di Jatim.
Baca Juga:
Senator Lia Istifhama Nilai Kepemimpinan Gubernur Khofifah Berhasil Jaga Ekonomi Jatim di Tengah Ketidakpastian GlobalAwal bulan Agustus yang lalu di beberapa titik di Kota Surabaya terjadi hujan. Namun hujan tersebut durasinya singkat, seperti yang terjadi pada Sabtu dini hari, 1 Agustus 2026.
Bersamaan dengan hujan ringan tersebut, beberapa titik lampu penerangan jalan (LPJ) di Surabaya Barat dilaporkan padam.
Meski diprediksi terjadi hujan lokal, BMKG mencatat cuaca tetap cerah dan berawan. Pada siang hari suhu udara sekitar 30 hingga 32 derajat Celcius.
Meski suhu udara masih berada dalam kisaran normal, kondisi pada siang hari tetap terasa terik. (*)