KETIK, SURABAYA – Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda, Sidoarjo memprediksi masih terjadi hujan di Kabupaten Bojonegoro, Magetan dan Ngawi pada puncak musim kemarau.
Bahkan, hujan di tiga wilayah tersebut diperkirakan intensitasnya ringan hingga lebat.
Trya Chandra, Prakirawan BMKG Juanda membeberkan, ada beberapa penyebab terjadinya hujan di wilayah Jatim. Salah satunya karena pemanasan kuat pada siang hari.
Hal ini terjadi karena udara lebih labil sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif.
Di samping itu, adanya ketersediaan uap air lokal juga berpotensi menyebabkan terjadinya meskipun secara umum lebih kering. Termasuk, karena wilayah di sekitar Jatim masih dapat memasok kelembaban.
“Untuk wilayah Jawa Timur hujan pada musim kemarau bersifat lokal dan episodik,” ungkap Trya Chandra ketika dihubungi Ketik.com.
“Suatu daerah bisa mengalami hujan, sementara daerah lain di sekitarnya tetap kering. Intensitasnya juga cukup lebat apabila awan konvektif berkembang kuat,” jelasnya.
Pada musim kemarau, hujan masih dapat terjadi akibat adanya gangguan atau dinamika atmosfer skala regional. Misalnya, aktivitas gelombang Kelvin, gelombang Rossby Ekuatorial, dan Madden-Julian Oscillation (MJO).
Fenomena tersebut dapat mendukung terbentuknya daerah konvergensi serta meningkatkan suplai uap air dan kelembaban, sehingga pertumbuhan awan hujan tetap memungkinkan terjadi.
“Suatu pola angin tertentu dapat meningkatkan konvergensi dan kelembaban di suatu daerah,” tambahnya.
Selain itu, hujan pada musim kemarau juga dapat dipengaruhi oleh kondisi Monsun Australia atau pola angin timuran yang tidak selalu dominan.
Ketika angin timuran melemah atau terjadi perubahan pola angin, suplai uap air dan kelembaban di suatu wilayah dapat meningkat. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan.(*)
