Beragama Maslahat dan Peran Strategis Nahdlatul Ulama

Editor: Mustopa

15 Jan 2025 12:00

Thumbnail Beragama Maslahat dan Peran Strategis Nahdlatul Ulama
Oleh: Sholehuddin*

Nahdlatul Ulama (NU) akan berharlah ke-102. Tema yang diangkat “Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat”. Tema ini menarik karena bersinggungan dengan isu agama yang digaungkan pemerintah saat ini. 

UU Nomor 59 tahun 2024 tentang RPJPN 2025-2045 memperkenalkan diksi baru dalam bidang keagamaan yakni Beragama Maslahat. Penguatan peran agama sebagai landasan spiritual, etika, moral, dan modal dasar pembangunan, sebagaimana disebutkan UU 59 tahun 2024 dilakukan melalui: 

Pertama, peningkatan internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua, pembangunan kehidupan beragama yang inklusif, rukun, dan toleran yang berorientasi penguatan moderasi beragama.

Ketiga, pengembangan dana sosial keagamaan dan filantropi, pemberdayaan umat beragama, dan peningkatan produktivitas. Keempat, peningkatan kualitas pelayanan kehidupan beragama secara merata, dan kelima, jaminan pemenuhan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Baca Juga:
Komitmen Jaga Keutuhan Bangsa, Ulama Dirikan Wadah Santri dan Alumni Pesantren Se-Nusantara

Beragama Maslahat sebagai kebijakan pemerintah, sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran visi nomor 8 yaitu, memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya. Juga, peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. 

Hal ini selaras dengan konsensus bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Beragama Maslahat juga masuk dalam 17 program, dengan prioritas ke-16 yaitu, memastikan kerukunan antarumat beragama, kebebasan beribadah, dan perawatan rumah ibadah. 

Dalam perspektif Kemenag tentang beragama maslahat ditindaklanjuti melalui, peningkatan kerukunan umat beragama, pendidikan agama yang inklusif dan berkualitas (nilai maslahat di pendidikan formal dan non-formal), program pemberdayaan masyarakat berbasis agama, advokasi kebebasan beragama, serta pengawasan intoleransi dan diskriminasi.

Selain itu promosi etika dan moral dalam kehidupan sosial, kampanye kesadaran sosial dan peningkatan kualitas SDM, kolaborasi dengan lembaga internasional dan nasional, penguatan data lembaga agama dan keagamaan untuk kesadaran sosial tentang toleransi, monitoring dan evaluasi kebijakan.

Baca Juga:
Film Layak Dicintai, Bukan Ditakuti oleh Mereka yang Terpaksa

Beragama maslahat merupakan cara beragama yang menghadirkan kebaikan bersama (common good, public interest). Sedangkan lawan dari beragama maslahat adalah beragama mafsadat (causing damage, ruin). 

Saat ini masih dijumpai, kekerasan dan kejahatan kemanusiaan justru dipicu melalui isu agama. Jelas tindakan ini bertentangan dengan esensi ajaran agama dan beragama maslahat. 

Dalam sebuah kajian yang digelar Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN), pemaknaan Beragama Maslahat adalah agama yang memberikan manfaat dan dukungan peningkatan kesejahteraan pada masyarakat melalui pembangunan. 

Konsep tersebut bersifat universal, mengacu pada keadaan yang lebih luas, misalnya maslahat kontemporer yang selaras dengan penjabaran sesuai Pancasila. Dengan pertimbangan sinkronisasi dari ketetapan yang ada, misalnya HAM, kebebasan beragama, dan kegiatan kemanusiaan.

Sebagai sebuah kebijakan, selain hadirnya pemegang otoritas keagamaan, harus didukung semua stakeholder. Kelompok Masyarakat arus bawah (grass root) dan kekuatan kultur masyarakat (power of civil society) adalah bagian tak terpisahkan. Di sinilah peran penting Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar mengambil bagian. 

Badan Pusat Statistik merilis data bahwa 87 persen penduduk Indonesia adalah beragama Islam. Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Denny JA pernah merilis data bahwa 56,9 persen muslim di Indonesia mengaku warga NU. Sebagai ormas terbesar di Indonesia dan dunia, bisa diartikan, bahwa wajah dunia Islam adalah Indonesia, dan wajah Islam Indonesia adalah Nahdlatul Ulama. 

Hal ini menjadi tantangan bagi Nahdlatul Ulama sebagai irisan negara dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apalagi masih ada 30 persen yang masuk kategori Masyarakat mengambang yang tidak berafiliasi ke mana-mana. Mereka sebagai kelompok muslim baru ini harus dirangkul oleh NU.

NU yang sudah memasuki abad ke-2 sudah teruji menghadapi berbagai tantangan, baik keagamaan maupun sosial. Tantangan ini diantisipasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan program prioritasnya. Sejumlah program strategis Nahdlatul Ulama dirumuskan dalam komisi program Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2023. 

Dari tujuh program strategis PBNU ada dua program yang beririsan langsung dengan Beragama Maslahat, yaitu program kelima, penguatan peran NU dalam membangun peradaban dunia yaitu diimplementasikan melalui kontribusi NU dalam berbagai tantangan misalnya resolusi konflik di Myanmar, situasi di Afghanistan, dan berbagai tantangan lainnya. 

Selain itu, NU juga dapat memperkuat kehadirannya dalam berbagai tema yang menjadi tantangan dunia, misalnya penghapusan kemiskinan ekstrim dan respons terhadap krisis iklim. 

Selanjutnya pada program keenam, penguatan peran NU dalam membangun ukhuwah wathaniyah yaitu pengurus NU di setiap tingkatan perlu mengembangkan inisiatif kerja sama lintas iman dan lintas latar belakang dalam berbagai program kemaslahatan bangsa. Misalnya, dalam program pemberdayaan masyarakat dan kewirausahaan.

Relevansi Beragama Maslahat dengan tema Harlah ke-102 NU “Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat” mengokohkan komitmen beragama maslahat menjadikan Indonesia maslahat. Bangsa Indonesia yang religius, harus menjadikan nilai agama sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar mencapai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur

Gagasan NU dengan Mabadi Khairu Ummah mengarah pada kemaslahatan umum (mashalihul ammah). Beragama Maslahat sejatinya ‘buah’ dari gerakan Penguatan Moderasi Beragama yang telah dicanangkan. Secara konseptual, PBNU sudah memiliki Fikih Peradaban, Kyai Sahal punya konsep Fikih Sosial, dulu ada Islam Nusantara, semuanya itu mengarah pada Beragama Maslahat.

PCNU Sidoarjo dengan segala potensi yang dimiliki diharapkan bisa menindaklanjuti Beragama Maslahat melalui kegiatan yang bisa dirasakan tidak saja warga NU tapi juga untuk bangsa Indonesia pada umumnya.

Apalagi pada saat yang sama, dalam konteks Sidoarjo masih ditemukannya kasus-kasus intoleransi dan konflik bernuansa agama dan aliran. Maka, PCNU bersama stakeholder terkait bisa menjadi stabilisator kehidupan beragama untuk mewujudkan Sidoarjo yang damai, maju dan sejahtera. 

Caranya, program-program PCNU tidak saja dirasakan warga NU tapi juga lebih luas, melalui program- program yang inklusif seperti baik pendidikan, ekonomi, lingkungan, budaya, bahkan keagamaan dengan mengedepankan nilai universal.

PCNU tidak lagi sekadar untuk jamiyah NU tapi untuk Sidoarjo. Dengan demikian, tagline Satu Abad NU yang pernah ‘mengguncang’ Kota Petis “Merawat Jagat Membangun Peradaban”, tidak sekadar jargon tapi sudah penerapan.

*) Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I. merupakan Ketua PC ISNU Sidoarjo, Anggota SC Musyker ke-3 PCNU

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

253 ODGJ di Jatim Masih Terpasung, Ini 4 Daerah dengan Angka Pasung Tertinggi

Baca Selanjutnya

Sengketa Hasil Pilkada Kota Blitar di MK, Kuasa Hukum Bambang-Bayu Siapkan Tambahan Bukti

Tags:

opini Sholehuddin nahdlatul ulama

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar