KETIK, MALANG – Untuk mengenalkan solusi energi alternatif kepada generasi muda, pelajar kelas IV dan V SD Katolik Santa Maria II Malang yang tergabung dalam Ekstrakurikuler Jurnalistik belajar mengolah limbah kertas dan daun kering menjadi briket, Senin, 2 Maret 2026.
Sebelum praktik dimulai, pembina ekstrakurikuler, Catur Riyanti, menjelaskan latar belakang kegiatan tersebut. Menurutnya, banyak daun kering di lingkungan sekolah serta limbah kertas yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Di sisi lain, harga gas yang terus naik serta kondisi ekonomi yang lesu, ditandai dengan melemahnya daya beli masyarakat, mendorong perlunya pemanfaatan energi alternatif yang mudah didapat dan digunakan.
“Salah satu solusinya adalah mengolah limbah kertas dan daun kering menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif. Selain mudah didapat, caranya juga cukup mudah,” jelasnya.
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain alat cetak, penumbuk dan tempat tumbuk (lumpang), sendok, pipa paralon, saringan, serta mangkuk. Adapun bahan yang digunakan meliputi daun kering, kertas bekas, dan lem kanji sebagai perekat.
“Daun kering ditumbuk hingga halus, kemudian disaring agar menghasilkan butiran yang lebih lembut. Selanjutnya, kertas bekas yang telah direndam semalaman ditumbuk hingga menjadi bubur kertas,” tambahnya.
Bubur kertas, daun kering halus, dan lem kanji kemudian dicampur hingga merata. Adonan yang sudah tercampur dimasukkan ke dalam cetakan lalu ditekan hingga padat.
Tahap berikutnya adalah proses pengeringan briket. Setelah kering, hasilnya diuji melalui uji pembakaran untuk mengetahui kualitas nyala api.
“Khusus bahan kertas, siswa memungut kertas dari tempat sampah di lingkungan sekolah serta kertas bekas dari bagian tata usaha. Selain mengenalkan siswa pada energi alternatif, kegiatan ini juga menanamkan kebiasaan memilah dan memanfaatkan sampah,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Katolik Santa Maria II Malang, Sr. Marsiana, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya mendidik, tetapi juga mengajarkan siswa untuk peduli terhadap lingkungan.
“Anak-anak belajar peduli lingkungan sekaligus berpikir kreatif dalam mencari solusi atas tantangan ekonomi. Inilah pendidikan yang membentuk karakter,” ungkapnya.
Salah satu peserta, siswi kelas V A, Jenni Herwanto, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya senang karena bisa membuat briket dari daun kering dan kertas bekas. Ternyata bahan yang sering kita anggap sampah bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya juga jadi lebih peduli menjaga lingkungan,” pungkasnya.
