KETIK, JAKARTA – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Mulyadi, menyoroti peluang pengembangan bahan bakar alternatif berbahan jerami sebagai sumber energi baru di Indonesia. Hal itu disampaikan di tengah meningkatnya harga minyak dunia akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
Ia menilai Indonesia perlu mulai membuka ruang lebih luas bagi pengembangan energi alternatif guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak impor.
Salah satu inovasi yang disorot adalah Bobibos, bahan bakar alternatif yang dikembangkan dari jerami oleh peneliti M. Ikhlas Thamrin bersama timnya. Produk tersebut merupakan hasil riset selama sekitar satu dekade dan diluncurkan pada November 2025 di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sebagai pembina pengembangan Bobibos, Mulyadi menyatakan bahwa bahan bakar tersebut pada prinsipnya siap dimanfaatkan sebagai energi alternatif bagi masyarakat. Namun pengembangannya masih menunggu dukungan kebijakan dari pemerintah, terutama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Kami siap, yang kami butuhkan itu regulasi, investasi dan proteksi (RIP) karena ini alternatif, bukan pengganti, tidak mengganggu bisnis bahan bakar lainnya," kata Mulyadi di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menilai dukungan regulasi sangat penting agar inovasi energi tersebut dapat berkembang di dalam negeri. Tanpa perlindungan kebijakan, ia khawatir pengembangan bahan bakar alternatif tersebut akan sulit bertahan.
"Kalau tidak ada proteksi jadi RIP (mati) beneran (bisnis BOBIBOS ini)," ujarnya.
Menurut Mulyadi, hingga saat ini program transisi energi nasional masih memprioritaskan bahan baku tertentu seperti sawit, tebu, dan aren. Sementara bahan baku jerami belum masuk dalam kebijakan pengembangan energi alternatif.
"Karena mandatory transisi energi hanya untuk bahan baku sawit, tebu dan aren, jerami belum diberi ruang dan kesempatan," ujar Mulyadi.
Ia juga menyinggung potensi besar jerami sebagai bahan baku energi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas lahan sawah nasional mencapai sekitar 11 juta hektare yang menghasilkan limbah jerami dalam jumlah besar setiap tahun.
"Jumlah sawah kita dari info Badan Pusat Statistik sekitar 11 juta hektar, jadi tanpa membuka lahan baru dan meningkatkan kesejahteraan petani juga. Bayangkan 1 hektar jerami bisa menghasilkan 2000 liter, misal ambil 5 juta hektar saja sudah 10 miliar liter," ujar Mulyadi.
Karena belum mendapat dukungan maksimal di dalam negeri, pengembangan Bobibos saat ini juga mulai diarahkan ke pasar luar negeri. Salah satu negara yang disebut telah memberikan persetujuan penggunaan adalah Timor Leste.
"Sedang persiapan Launching di Timor Leste, kami menunggu jadwal perdana Menteri dan Presiden, karena beliau-beliau akan meresmikan," pungkas Mulyadi. (*)
