KETIK, SLEMAN – Kabar kurang sedap berembus dari sektor kesehatan Kabupaten Sleman. Penyakit gagal ginjal kronis (GGK) yang selama ini identik sebagai penyakit "orang tua", kini mulai menunjukkan pergeseran tren yang mengkhawatirkan.
Tak hanya jumlah kasus yang melonjak drastis, namun penderitanya kini mulai merambah ke kelompok usia yang jauh lebih muda: remaja.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman dari 25 puskesmas, tercatat lonjakan kasus yang cukup signifikan dalam setahun terakhir. Jika pada 2024 angka penderita berada di angka 2.502 kasus, maka pada 2025 angka tersebut membengkak menjadi 3.399 kasus.
"Artinya, ada kenaikan sekitar 897 kasus atau meningkat kurang lebih 35,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Cahya Purnama, MKes.
dr Cahya, Jumat 13 Mei 2026, membenarkan, lonjakan ini tidak hanya datang dari wajah-wajah lama yang menjalani perawatan rutin. Data menunjukkan bahwa temuan kasus baru juga melesat. Dari 1.407 kasus baru di 2024, kini menjadi 1.794 kasus di 2025. Kondisi ini menjadi indikator bahwa ada masalah serius pada gaya hidup masyarakat yang luput dari pengawasan.
Ancaman di Usia Belia
Yang paling menyita perhatian adalah pergeseran demografi pasien. Meski kelompok usia 60–69 tahun tetap menjadi penyumbang terbesar dengan 1.082 kasus, kelompok usia produktif dan remaja tidak lagi bisa bernapas lega.
Pada kelompok usia 20–44 tahun, angka penderita mencapai 384 orang. Namun, yang paling mengejutkan adalah tren di kelompok remaja usia 15–19 tahun.
"Kelompok remaja naik hampir dua kali lipat, dari 11 kasus pada 2024 menjadi 21 kasus pada 2025. Ini adalah alarm keras. Gagal ginjal bukan lagi monopoli lansia," tegas dr. Cahya dengan nada serius.
Lantas, apa biang keladinya? dr Cahya menunjuk hidung Penyakit Tidak Menular (PTM) yang tidak terkendali, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Data nasional menunjukkan kedua penyakit ini adalah "karpet merah" menuju gagal ginjal. Di Sleman, prevalensinya pun cukup tinggi. Tiga dari sepuluh warga usia 15 tahun ke atas ditemukan memiliki tekanan darah tinggi.
"Gaya hidup urban, konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebih, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama. Ditambah lagi kebiasaan konsumsi minuman energi dan obat analgetik yang berlebihan tanpa resep dokter. Itu sangat merusak ginjal dalam jangka panjang," imbuhnya.
Benteng Pencegahan Digital
Menghadapi serangan "silent killer" ini, Pemkab Sleman tidak tinggal diam. dr Cahya memastikan bahwa negara hadir bagi penderita melalui skema pembiayaan yang kuat. Sesuai Peraturan Bupati Nomor 10.1 Tahun 2020, penderita penyakit kronis didaftarkan ke program JKN yang dibiayai pemerintah daerah yang dikenal dengan istilah (Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja Pemerintah Daerah (PBPU BP Pemda).
"Kami memastikan tidak ada warga Sleman yang putus pengobatan cuci darah karena kendala biaya. Namun, yang lebih penting dari itu adalah pencegahan sejak dini," tuturnya.
Salah satu inovasi yang diandalkan adalah program HiTS (Hipertensi Terkendali di Sleman). Melalui sistem Rekam Medis Elektronik (RME), dokter di puskesmas kini bisa memantau grafik tekanan darah pasien secara real-time. Jika ada pasien berisiko tinggi yang absen kontrol, sistem akan secara otomatis mengirimkan notifikasi pengingat via WhatsApp.
Selain teknologi, Dinkes Sleman juga melakukan strategi "jemput bola" melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) di pusat-pusat keramaian seperti Sleman City Hall hingga pasar tradisional. Tujuannya satu: mendeteksi kerusakan ginjal di stadium awal.
"Target kami adalah transformasi dari sekadar mengobati menjadi pencegahan presisi. Kami ingin puskesmas menjadi benteng terdepan dalam mendeteksi risiko sebelum pasien harus berakhir di meja hemodialisa (cuci darah)," pungkas dr Cahya.
Data Utama Gagal Ginjal Sleman (2024-2025):
• Total Kasus: Naik 35,9% (dari 2.502 ke 3.399).
• Kasus Baru: 1.794 orang (2025).
• Kasus Remaja (15-19 th): Naik dari 11 menjadi 21 kasus.
• Penyebab Utama: Hipertensi & Diabetes (3 dari 10 warga Sleman hipertensi).
Kini, bola ada di tangan masyarakat. Dengan fasilitas yang sudah disiapkan pemerintah, kesadaran untuk rutin memeriksa kesehatan ginjal menjadi kunci utama agar Bumi Sembada tidak terus mencetak rekor kenaikan kasus yang mematikan. (bersambung)