KETIK, MALANG
– Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tak semestinya berhenti pada seremoni dan kemeriahan. Dewan Pembina DPP Ikatan Keluarga Madura (Ikama) Muhlis Ali menekankan pentingnya persatuan sebagai fondasi merawat Indonesia.
"Melalui pesan kita rawat, kita jaga dengan persatuan nasional, menjadi ajakan untuk melihat kemerdekaan sebagai amanah yang harus terus dipelihara bersama," ujar Muhlis Ali, Selasa, 18 Agustus 2026.
Bagi Muhlis Ali, kemerdekaan memiliki makna yang lebih luas daripada terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti kemampuan seluruh elemen bangsa untuk hidup berdampingan menjaga persaudaraan.
Serta menempatkan kepentingan Indonesia di atas kepentingan kelompok. Di tengah masyarakat yang semakin beragam dan dinamika sosial terus berkembang, persatuan menjadi modal penting agar perbedaan tak berubah menjadi sumber perpecahan.
"Pesan tersebut memiliki relevansi dengan perjalanan Ikama yang mhadir sebagai rumah besar bagi masyarakat Madura di perantauan. Pada awalnya, IKAMA tumbuh dari tradisi silaturahmi dan perkumpulan masyarakat Madura. Kemudian berkembang menjadi organisasi yang diarahkan untuk memberikan kontribusi lebih luas bagi bangsa melalui bidang sosial, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan berbagai sektor lainnya," bebernya.
Dalam konteks itu, kata ia, refleksi kemerdekaan dapat dimaknai sebagai dorongan agar identitas kedaerahan justru menjadi kekuatan untuk memperkaya Indonesia, bukan alasan untuk membangun sekat.
Semangat kekeluargaan yang menjadi akar Ikama dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata, terutama dalam memperkuat sumber daya manusia, membuka ruang pemberdayaan ekonomi, menjaga solidaritas sosial.
"Serta mendorong generasi muda agar mengambil bagian dalam pembangunan. Arah tersebut juga sejalan dengan agenda Ikama dalam periode kepengurusan 2025-2030 yang menekankan konsolidasi organisasi dan peran yang lebih strategis bagi masyarakat," jelasnya.
"Karena itu, 81 tahun Indonesia merdeka dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa menjaga Indonesia adalah pekerjaan bersama," sambungnya.
Bagi Muhlis Ali, refleksi kemerdekaan bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi meneguhkan komitmen untuk terus merawat persaudaraan, memperkuat persatuan, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi bangsa.
Sebab, kata ia, kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa hanya akan tetap bermakna apabila generasi hari ini mampu menjaganya dengan persatuan nasional. (*)