KETIK, ACEH BARAT DAYA – Kader muda Partai Golkar, Zulbaidi ZA, mengajak seluruh kader dan pengurus Partai Golkar Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, untuk menjaga soliditas serta menghormati hasil akhir Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Golkar Abdya.

Zulbaidi menyatakan siap mendukung dan menyukseskan pelaksanaan Musda sebagai momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat persatuan kader dalam menghadapi agenda politik mendatang.

Mantan Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Abdya itu menilai, perbedaan pandangan dalam dinamika internal partai merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh mengesampingkan kepentingan organisasi.

“Lebih baik kita bersatu dan berkarya demi kebaikan partai daripada menjadi duri di tubuh sendiri. Soliditas merupakan modal penting untuk menjaga keberlangsungan dan membesarkan Golkar di Aceh Barat Daya,” ujar Zulbaidi, Rabu (28/10/2026)

Ia menegaskan, setiap kader harus mampu menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Menurutnya, kedewasaan dalam berorganisasi diuji ketika kader harus menerima dan menjalankan keputusan bersama.

Baca Juga:
Di Musda Golkar, Wabup Halsel Minta Rivalitas Politik Tetap Produktif

Zulbaidi turut menyoroti sejumlah dinamika menjelang Musda Golkar Abdya, mulai dari pengunduran diri Ketua Organizing Committee (OC) hingga penundaan agenda musyawarah tersebut.

Menurut dia, berbagai persoalan itu perlu disikapi secara bijaksana dengan tetap berpedoman pada mekanisme dan ketentuan organisasi.

“Sebagai kader, kita harus konsisten dan patuh terhadap setiap keputusan yang berlaku di internal partai, termasuk proses dan hasil Musda. Meskipun berbagai polemik telah terjadi, saya menilai hal tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus disikapi secara dewasa,” katanya.

Kader yang pernah mengikuti pendidikan politik dan Bela Negara Partai Golkar di Cibubur pada 2016 itu juga mengingatkan agar perbedaan pendapat tidak menghambat konsolidasi maupun persiapan partai menghadapi agenda politik berikutnya.

Baca Juga:
Dua Terduga Pelaku Penganiayaan Maut Saat Main Domino di Abdya Ditangkap, Begini Kronologinya

Ia berharap para alumni pendidikan Bela Negara Partai Golkar dapat mengambil peran dalam memperkuat komunikasi dan membangun sinergi dengan kepengurusan yang terbentuk setelah Musda.

Menurut Zulbaidi, siapa pun kader yang nantinya memperoleh amanah sebagai ketua harus dihormati dan didukung untuk menjalankan tanggung jawab organisasi.

“Kita harus saling melengkapi dalam setiap agenda politik internal. Karena itu, penting bagi seluruh kader untuk memberikan dukungan kepada siapa pun yang terpilih. Kader yang menerima mandat organisasi harus diberi ruang untuk menjalankan tanggung jawabnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan seluruh kader agar tidak melakukan manuver yang berpotensi memicu perpecahan setelah keputusan Musda ditetapkan. Sebaliknya, seluruh elemen partai diharapkan kembali merapatkan barisan demi menjaga keberlangsungan organisasi.

Zulbaidi sendiri memiliki pengalaman politik bersama Partai Golkar. Pada Pemilu 2019, ia tercatat sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Babahrot–Kuala Batee. Meski belum berhasil meraih kursi, perolehan suaranya turut memberikan kontribusi terhadap perolehan satu kursi Golkar di daerah pemilihan tersebut.

Meski tidak tercatat aktif dalam kepengurusan DPD II Golkar Abdya periode 2020–2025, Zulbaidi mengaku telah mengikuti perjalanan dan dinamika partai berlambang pohon beringin itu selama belasan tahun.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari perjalanan politik yang memperkuat komitmennya untuk terus berkontribusi bagi partai.

Ia berharap Musda Golkar Abdya tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum memperbaiki komunikasi internal, memperkuat persatuan, dan membangun kepengurusan yang solid.

“Yang terpenting, setelah Musda kita kembali bersama. Jangan sampai perbedaan selama proses berlangsung justru menjadi penghalang bagi kemajuan Partai Golkar di Aceh Barat Daya,” tutupnya. (*)