KETIK, MALANG – Kuswoyo (49), warga Jalan Kemantren III, Kecamatan Sukun, Kota Malang, menjadi potret luputnya perhatian pemerintah dalam pendataan dan penyaluran bantuan sosial. Meski bertahun-tahun hidup di rumah tak layak, namanya justru tercatat dalam Desil 6 pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Hampir 90 persen kondisi rumah Kuswoyo dipenuhi tumpukan sampah yang ia kumpulkan dari tempat pembuangan sementara (TPS), tapi belum sempat terjual. Sampah-sampah tersebut berserakan di dapur yang masih terbuat dari kayu lapuk.
“Ini sangat tidak layak dan tidak sehat. Dapurnya masih memakai kayu bakar dan banyak tumpukan sampah karena beliau bekerja memilah sampah di TPS. Rumahnya hampir 90 persen terisi sampah yang belum sempat terjual,” ujar Sudarno, Koordinator Grup Pengaduan Malang Raya, Kamis, 23 April 2026.
Ironisnya, kondisi tersebut telah dijalani Kuswoyo selama hampir enam tahun. Selama itu pula, ia luput dari bantuan Pemerintah Kota Malang.
Bahkan, untuk mengakses air bersih, Kuswoyo harus menumpang di musala dan rumah adiknya yang berada di dekat kediamannya.
Baca Juga:
Dari Tanah Rantau ke Pengabdian: Lulusan Apoteker UIN Malang Siap Kembali Membangun Daerah“Pak Kuswoyo tidak memiliki akses air bersih, sehingga harus meminta ke musala dan difasilitasi oleh adik kandungnya. Ia juga hidup sebatang kara. Parahnya, selama ini Pak Kuswoyo tidak pernah menerima bantuan sosial karena masuk Desil 6,” lanjutnya.
Sudarno menegaskan bahwa data tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Menurutnya, verifikasi lapangan terhadap kondisi rumah Kuswoyo tidak pernah dilakukan sehingga ia luput dari perhatian pemerintah.
“Pengakuan RW dan adiknya, beberapa kali telah diajukan perubahan desil untuk Pak Kuswoyo, tetapi tidak pernah berhasil,” katanya.
Sudarno menjelaskan kasus Kuswoyo telah dilaporkan kepada Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang agar dilakukan penurunan ke Desil 1 atau 2. Termasuk mempermudah akses layanan kesehatan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Baca Juga:
Kedai Ramlah, Surga Ayam Tangkap Khas Aceh yang Bikin Ketagihan di Kota Malang“Padahal kondisinya sangat memprihatinkan. Secara fisik, beliau juga mengalami keterbatasan dalam pendengaran,” ujarnya.
Meskipun telah mendapat respons positif dari Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang, perubahan desil membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebagai solusi cepat, Sudarno menghimpun bantuan dari masyarakat hingga terkumpul Rp9 juta dalam sehari.
Bantuan tersebut rencananya akan diberikan kepada Kuswoyo pada Jumat (24/4/2026) langsung di kediamannya.
“Kami melihat pemerintah abai terhadap kondisi warganya. Pak Kuswoyo sudah bertahun-tahun tidak pernah menerima intervensi bantuan sosial,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, turut merespons kondisi tersebut. Ia akan meminta Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang untuk segera menindaklanjutinya.
“Nanti akan kami cek. Data bisa dikirim ke Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang atau melalui pihak lurah dan camat agar segera ditindaklanjuti,” ujar Wahyu.