KETIK, DAIRI – Wakil Bupati Dairi Wahyu Daniel Sagala membuka Festival Lomba Cipta Lagu Pak-Pak 2026 di halaman Gedung Nasional Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sabtu, 5 September 2026.
Pembukaan festival tersebut diawali dengan penampilan seni bela diri silat Moccak Pak-Pak yang dibawakan para santri Pondok Pesantren Dairi.
Atraksi tersebut ditampilkan di hadapan Wakil Bupati Dairi bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Ketua panitia pelaksana, Martua Nahampun, dalam laporannya menyampaikan bahwa dana pelaksanaan Festival Lomba Cipta Lagu Pak-Pak tahun 2028 mencapai Rp180 juta.
"Dana kas PB-LKP kami ambil sebesar Rp60 juta. Jadi masih banyak kekurangan dana, pihaknya minta Pemkab Dairi dapat membantu," kata Martua singkat.
Baca Juga:
Usai Muktamar, PCNU Aceh Singkil Langsung Gelar Rapat PengurusSementara itu, Ketua PB-LKP (Pengurus Besar-Lembaga Kebudayaan Pak-Pak) Drs. Zuhri Bintang mengapresiasi dukungan para pengusaha lokal yang turut membantu menyukseskan kegiatan melalui sponsorship dan lucky draw.
Menurut Zuhri, festival tersebut menjadi momentum penting untuk menjaga keberadaan lagu-lagu Pak-Pak.
Ia menilai stok lagu Pak-Pak saat ini mulai terkikis sehingga diperlukan terobosan untuk mendorong kembali penciptaan karya lagu daerah.
"Menurutnya, festival ini menjadi momen tepat dilaksanakan, pasalnya dewasa ini stok lagu-lagu Pak-Pak terasa mulai terkikis untuk itu pemerintah daerah mendorong PB-LKP membuat terobosan," ujarnya.
Baca Juga:
Bupati Dairi Terima Kedatangan 27 Peserta Festival Lomba Cipta Lagu Pak-Pak 2026Selain menjadi wadah penciptaan dan pengembangan lagu daerah, festival tersebut juga menjadi sarana hiburan bagi masyarakat Sidikalang.
"Disamping minim stok lagu, festival cipta lagu daerah ini juga menjadi ajang hiburan untuk warga Sidikalang," ucapnya.
Wakil Bupati Dairi Wahyu Daniel Sagala menyambut baik pelaksanaan Festival Lomba Cipta Lagu Pak-Pak 2026.
Ia mengaku bangga melihat antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.
"Saya bangga melihat antusiasme peserta, ini artinya lagu dan kebudayaan Pak-Pak kedepan akan hidup dan berkembang," ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, seni olah vokal maupun cipta lagu tidak sekadar menjadi ajang kompetisi.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya daerah.
"Seni olah vokal atau cipta lagu bukan sekedar ajang kompetisi, namun implikasi rasa bangga atas identitas budaya daerah," ujarnya.(*)