KETIK, ACEH SINGKIL – Hari Pelanggan Nasional yang diperingati setiap 4 September seharusnya tidak berhenti pada seremoni, ucapan selamat, atau sekadar membagikan bingkisan kepada pelanggan.
Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa pelanggan adalah alasan utama sebuah perusahaan hadir, tumbuh, dan dipercaya.
Hal tersebut disampaikan Adhifatra Agussalim, Ketua DPW GAMIES Provinsi Aceh.
Menurut Adhifatra, di tengah perubahan perilaku masyarakat dan semakin tingginya ekspektasi terhadap pelayanan publik maupun dunia usaha, organisasi tidak lagi cukup hanya menyediakan produk atau jasa.
Kualitas pelayanan, kecepatan merespons keluhan, transparansi, kemudahan akses, serta kemampuan membangun kepercayaan menjadi bagian penting dari pengalaman pelanggan.
“Pelanggan hari ini tidak hanya membeli produk atau menggunakan layanan. Mereka membeli pengalaman, kepastian, kenyamanan, dan kepercayaan,” ujar Adhifatra, Jumat, 4 September 2026.
Ia menilai, perusahaan yang masih menganggap pelayanan pelanggan sebagai sekadar kewajiban administratif akan tertinggal. Sebaliknya, perusahaan yang mampu menjadikan kepuasan pelanggan sebagai bagian dari budaya organisasi akan memiliki keunggulan yang lebih kuat.
Jangan Sampai Pelanggan Hanya Diperlukan saat Membayar
Adhifatra mengingatkan bahwa hubungan perusahaan dengan pelanggan tidak boleh hanya aktif ketika tagihan harus dibayar.
Menurutnya, prinsip pelayanan yang baik harus berjalan dua arah. Ketika pelanggan memiliki kewajiban, perusahaan juga memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan sesuai standar yang telah dijanjikan.
“Jangan sampai pelanggan hanya dicari ketika membayar tagihan, tetapi ketika menyampaikan keluhan justru harus menunggu lama. Pelayanan yang baik harus hadir sebelum pelanggan meminta, bukan setelah pelanggan kecewa,” tegasnya.
Karena itu, momentum Hari Pelanggan Nasional harus menjadi bahan evaluasi bagi setiap organisasi: berapa cepat keluhan ditangani, berapa banyak pengaduan yang selesai, seberapa mudah pelanggan mendapatkan informasi, dan apakah pelanggan benar-benar merasa dihargai?
Era Digital: Pelanggan Tidak Mau Lagi Menunggu
Adhifatra juga menyoroti perubahan ekspektasi pelanggan di era digital. Masyarakat kini terbiasa mendapatkan informasi secara cepat melalui perangkat digital.
Karena itu, sistem pelayanan juga harus beradaptasi dengan menyediakan kanal informasi dan pengaduan yang mudah, responsif, terukur, serta dapat dipantau.
Menurutnya, transformasi digital bukan sekadar membuat aplikasi atau akun media sosial.
“Digitalisasi pelayanan bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang kita miliki, tetapi seberapa mudah pelanggan mendapatkan solusi,” katanya.
Ia mendorong perusahaan dan penyelenggara pelayanan publik untuk membangun sistem pengelolaan pelanggan yang terintegrasi, mulai dari penerimaan pengaduan, pencatatan, tindak lanjut, hingga evaluasi kepuasan pelanggan.
Dari Kepuasan Menuju Loyalitas
Lebih jauh, Adhifatra menilai bahwa kepuasan pelanggan harus menjadi pintu masuk untuk membangun loyalitas.
Pelanggan yang puas belum tentu loyal. Namun pelanggan yang merasa didengar, dihargai, diberikan solusi, dan diperlakukan secara adil akan memiliki alasan lebih kuat untuk terus mempercayai sebuah perusahaan.
Oleh sebab itu, indikator keberhasilan pelayanan menurutnya tidak cukup hanya melihat jumlah pelanggan atau besarnya pendapatan.
Perusahaan juga perlu mengukur Customer Satisfaction, Customer Complaint Resolution, Response Time, Service Quality, Customer Retention, hingga tingkat kepercayaan pelanggan.
“Ukuran keberhasilan perusahaan jangan hanya berapa banyak uang yang masuk, tetapi juga berapa banyak kepercayaan yang berhasil kita bangun,” ungkapnya.
Pelayanan Prima Harus Dimulai dari Dalam
Adhifatra menegaskan bahwa pelayanan prima tidak mungkin lahir dari slogan semata.
Pelayanan yang baik harus dimulai dari internal organisasi. Pegawai harus memahami bahwa setiap interaksi dengan pelanggan membawa nama besar institusi.
Karena itu, diperlukan budaya kerja yang menempatkan integritas, profesionalisme, empati, disiplin, kecepatan, dan akuntabilitas sebagai nilai utama.
Ia juga mendorong setiap organisasi untuk memiliki standar pelayanan yang jelas dan dapat diukur, termasuk Service Level Agreement (SLA), mekanisme pengaduan, standar waktu penyelesaian, serta evaluasi berkala terhadap kinerja pelayanan.
Hari Pelanggan Nasional Harus Menjadi Hari Evaluasi
Bagi Adhifatra, Hari Pelanggan Nasional bukan sekadar hari untuk mengucapkan “Selamat Hari Pelanggan”. Lebih dari itu, 4 September harus menjadi momentum untuk bertanya:
“Apakah pelanggan kita benar-benar sudah mendapatkan pelayanan terbaik?” jelasnya.
Jika jawabannya belum, maka peringatan Hari Pelanggan Nasional harus menjadi titik awal untuk melakukan perubahan.
“Mari kita ubah paradigma dari sekadar melayani menjadi memberikan pengalaman terbaik. Dari sekadar menyelesaikan transaksi menjadi membangun hubungan. Dan dari sekadar mengejar kepuasan menjadi membangun kepercayaan,” ujar Adhifatra.(*)
