KETIK, MALANG – Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menerima mahasiswa non-Muslim pada tahun ajaran 2026/2027. Guna memastikan pemenuhan hak ibadah mereka, kampus berkolaborasi dengan gereja setempat untuk memfasilitasi pembelajaran agama bagi para mahasiswa tersebut.

Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, UIN Malang kini makin terbuka bagi calon mahasiswa dari berbagai latar belakang agama. Pada tahun ajaran baru ini, sejumlah mahasiswa non-Muslim dipastikan telah bergabung untuk memulai perkuliahan.

Kehadiran mereka memberikan warna baru bagi Ma'had Sunan Ampel Al-Aly UIN Malang. Pasalnya, seluruh mahasiswa baru diwajibkan tinggal di asrama kampus tersebut dan mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan Islam selama satu tahun pertama.

Kepala Bagian Administrasi Akademik UIN Malang, Imam Ahmad, mengungkapkan bahwa saat ini sudah terdeteksi dua mahasiswa non-Muslim yang masuk ma'had melalui jalur penerimaan resmi. Keduanya berasal dari kawasan Indonesia timur.

"Kalau sementara ini yang terdeteksi itu ada dua, sudah datang. Ada yang dari Flores, ada yang dari Papua," ujarnya, Rabu, 12 Agustus 2026.

Baca Juga:
Dari Tulisan Menuju Cuan: Mengubah Gagasan Menjadi Peluang Masa Depan

Kehadiran mahasiswa non-Muslim ini menjadi momentum penerapan nilai-nilai Islam moderat yang mengajarkan saling menghormati perbedaan. Untuk itu, Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Malang menyesuaikan pola pendampingan agar mahasiswa tetap mendapatkan bimbingan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing.

Direktur Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Malang, Achmad Izzudin, menjelaskan bahwa mahasiswa non-Muslim tetap mengikuti kegiatan umum di ma'had. 

"Kalau sudah validasinya sukses, mereka akan langsung masuk ke ma'had," ucap Izzudin.

Namun, khusus pembelajaran dan pembinaan keagamaan, pihak ma'had bermitra dengan gereja di Kota Malang.

Baca Juga:
FK UB Resmi Lantik 20 Dokter Spesialis, Siap Berikan Pelayanan Kesehatan kepada Masyarakat

Ia menambahkan, pihak gereja mitra akan menyediakan fasilitas serta operasional peribadatan. Sementara itu, Ma'had Sunan Ampel Al-Aly UIN Malang memberikan pelayanan pendukung agar mahasiswa dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang.

"Ini tantangan buat ma'had bagaimana mengkonsep pesantren yang multi-agama," pungkasnya.

Langkah ini menegaskan komitmen UIN Malang sebagai ruang inklusif bagi siapa saja yang ingin menempuh pendidikan tinggi, dengan jaminan layanan dan kesetaraan bagi seluruh mahasiswa.(*)