Peringati Mooncake Festival 2026, Kelenteng Eng An Kiong Malang Gelar Sembahyang Bersama

26 September 2026 08:10 26 Sep 2026 08:10

Nurul Aliyah, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Peringati Mooncake Festival 2026, Kelenteng Eng An Kiong Malang Gelar Sembahyang Bersama

Kelenteng Eng An Kiong menyelenggarakan sembahyang bersama memperingati Hari Festival Kue Bulan pada Jumat, 25 September 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Memperingati Hari Festival Bulan atau biasa diperingati dengan Mooncake Festival, Kelenteng Eng An Kiong Malang menggelar sembahyang bersama bagi penganut kepercayaan tradisional Tionghoa Malang pada Jumat, 25 September 2026 di Kelenteng Eng An Kiong. 

Ibadah ini adalah bentuk perayaan bagi etnis China di seluruh dunia, di mana legenda mengisahkan misteri seorang raja bernama Hou Yi yang memanah sembilan matahari dan menyisakan satu untuk menyelamatkan bumi. Atas jasanya, ia diberi ramuan oleh para dewa.

Namun, banyak orang berniat untuk mencuri ramuan tersebut. Dalam hal ini, istri dari Hou Yi, Chang'e terpaksa meminum semua ramuan tersebut agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Setelah itu, tubuh Chang'e menjadi ringan dan terbang serta tinggal di bulan sebagai Dewi Bulan. 

Hou Yi yang rindu dengan sang istri kemudian merayakan hari kenaikan Chang'e dengan menyajikan kue dan buah kesukaan sang istri.

Foto Rudy Phan, Ketua Umum Kelenteng Eng An Kiong menyampaikan kegiatan sembahyang bersama memperingati Hari Festival Kue Bulan adalah bentuk rasa syukur. (Foto: Aliyah/Ketik.com)Rudy Phan, Ketua Umum Kelenteng Eng An Kiong menyampaikan kegiatan sembahyang bersama memperingati Hari Festival Kue Bulan adalah bentuk rasa syukur. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

Rudy Phan, Ketua Umum Kelenteng Eng An Kiong menyampaikan bahwa peringatan Hari Festival Bulan ini melalui sembahyang bersama yang diharapkan agar mendapatkan kesehatan, rezeki yang banyak. Menurutnya, sembahyang saat Mooncake Festival adalah menjadi rasa syukur. 

Rudy Phan juga menjelaskan bahwa sembahyang ini menjadi momen berkumpul bagi keluarga sembari makan kue pia bersama-sama. Tentunya ini menjadi momen kebersamaan yang penuh kehangatan bagi Seluruh etnis Tionghoa.

"Jadi ngumpul satu keluarga, rukun-rukun. Banyak orang keluarga itu mengundang sanak saudaranya datang ke rumah ini. Makan pia dipotong-potong. Pia kan bulat, manis, rukun, harmonis semua," jelasnya.

Dalam kegiatan sembahyang bersama, terdapat beberapa persembahan, seperti daging ikan yang dipersembahkan untuk Dewa Bumi.

Kue bulan menjadi simbol yang menjadi ikon dalam peringatan Hari Festival Kue Bulan. Rudy Phan mengatakan jika kue bulan menjadi sajian yang wajib ada ketika memperingati Hari Festival Kue Bulan.

"Kue bulan menjadi simbol, sebagai harmonisan. Bulan sebagai rukun yang wajib ada," tutur Rudy Phan.

Rudy Phan menjelaskan jika Hari Festival Kue Bulan ini tidak paten di tanggal 25 September. Setiap tahunnya akan berubah, mundur beberapa hari.

"Bulan internasional kan September, tanggal 25 sekarang. Mungkin tahun depan, Oktober, tanggal 1, beda tidak paten," pungkasnya.

Para Mooncake Festival 2026, Rudy Phan menuturkan bahwa pesan kepada umat Tionghoa untuk bisa hidup harmonis yang sesuai dengan makna dari mooncake.(*)

Tombol Google News

Tags:

Kelenteng Malang Mooncake Festival Festival Kue Bulan Tradisi China