KETIK, JEMBER – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 09 UPN “Veteran” Jawa Timur menghadirkan inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat pengomposan praktis bernama Tong Putar Kompos.
Inovasi tersebut diperkenalkan untuk mendukung pengelolaan sampah mandiri dan pertanian berkelanjutan di lingkungan pesantren.
Program tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Kasepuhan Assuniyah, Kecamatan Kencong.
Alat Tong Putar Kompos memanfaatkan sampah organik, khususnya sisa sayuran dan kulit buah dari aktivitas dapur, untuk diolah menjadi pupuk kompos.
Inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh masih banyaknya limbah organik rumah tangga yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Baca Juga:
Rawat Ukhuwah dan Sportivitas, Ragam Lomba Kemerdekaan Warnai PP Ahlul Irfan Al-Kholily JemberMelalui alat sederhana itu, mahasiswa KKN berharap pesantren dapat mengelola sampah organik secara mandiri sekaligus menghasilkan pupuk untuk menyuburkan tanaman.
Tong Putar Kompos dirancang menggunakan tong bekas yang dimodifikasi dengan pintu pada bagian badan tong.
Pintu tersebut berfungsi memudahkan pengguna memasukkan bahan-bahan yang akan diolah.
Tong juga ditempatkan di atas dudukan besi dan dilengkapi poros sehingga dapat diputar secara berkala.
Baca Juga:
KKN UPN Jatim Dampingi Warga Wringinpitu Jombang Bangun Branding Briket Bonggol JagungDesain tersebut memungkinkan proses pencampuran bahan dilakukan tanpa harus mengaduknya secara manual.
Dalam proses pembuatan kompos, pengguna terlebih dahulu memasukkan tanah kering ke dalam tong.
Selanjutnya, sampah organik seperti sisa potongan sayuran dan kulit buah yang telah dicacah dimasukkan ke dalam wadah.
Bahan tersebut kemudian dicampur dengan sekam atau daun kering untuk membantu mengatur kelembapan.
Mahasiswa juga mengenalkan penggunaan cairan EM4 atau Effective Microorganisms 4 dan molase atau tetes tebu sebagai activator untuk membantu mempercepat proses fermentasi dan penguraian.
Molase juga dapat digantikan dengan cairan gula. Setelah seluruh bahan dimasukkan, tong ditutup rapat dan diputar secara berkala agar seluruh bahan tercampur merata.
Sosialisasi mengenai pemanfaatan Tong Putar Kompos dilaksanakan pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut membahas pentingnya pengelolaan sampah organik, peluang pengolahannya menjadi pupuk kompos, hingga praktik pembuatan pupuk menggunakan teknologi tepat guna.
Program tersebut mendapat respons positif dari pengurus Pondok Pesantren Kasepuhan Assuniyah.
Keberadaan Tong Putar Kompos dinilai dapat membantu mengatasi persoalan sampah organik di lingkungan pesantren sekaligus berpotensi menghemat pengeluaran untuk pembelian pupuk tanaman.
Melalui sesi sosialisasi interaktif, mahasiswa juga menjelaskan ciri-ciri kompos yang telah matang dan siap digunakan.
Pupuk kompos yang baik memiliki warna cokelat kehitaman, berbau tanah, tidak terdapat belatung maupun jamur, memiliki tingkat kelembapan yang tidak terlalu basah, serta bertekstur remah menyerupai pasir.
Kompos dengan ciri tersebut dapat langsung diaplikasikan untuk membantu menyuburkan tanaman dan mendukung kegiatan pertanian.
Melalui program KKN tersebut, mahasiswa berharap pengurus Pondok Pesantren Kasepuhan Assuniyah dapat melanjutkan pemanfaatan Tong Putar Kompos secara mandiri.
Keberlanjutan program itu diharapkan mampu menciptakan lingkungan pesantren yang lebih bersih, mandiri, dan ramah lingkungan.(*)