KETIK, LABUHAN BATU – Temuan berbagai jenis narkoba di luar maupun di dalam Lapas Kelas III Labuhanbilik, Labuhanbatu oleh Satnarkoba Polres Labuhanbatu waktu lalu, menjadi bahan penting bagi Kepala Lapas, Leonardo Panjaitan.

Selain mampu mengetahui berbagai kekurangan dari dalam lapas sendiri, juga menjadi sebuah renungan perbaikan sistem maupun tata kelola.

"Terima kasih atas sharingnya. Peristiwa kemarin jadi bahan evaluasi kami, baik pembinaan warga binaan mupun pegawai sendiri," kata Leonardo Panjaitan menjawab Ketik.com saat dihubungi, Jumat, 26 Juni 2026.

Ihwal bagaimana dan siapa saja yang terlibat selain seorang pegawai di sana, pihaknya masih menunggu proses penanganan dari Polres Labuhanbatu.

Terkait pengungkapan peredaran narkoba yang melibatkan seorang pegawai dan tiga warga binaan lainnya, ia tidak menutup kelemahannya. 

Baca Juga:
Geger! Satnarkoba Labuhanbatu Temukan 'Segudang' Narkoba di Lapas Labuhanbilik

Apalagi dengan situasi saat ini, setiap sekali penjagaan sesuai jadwal, hanya terdapat 4 petugas dengan tugas penjagaan pada 2 pos menara pantau, pengamanan tahanan serta 1 di pintu masuk.

"Bisa dibayangkan, hanya seorang di pintu masuk. Tugasnya memeriksa seluruh badan pengunjung dan bawaannya. Nah, sekarang kita libatkan pegawai kantor untuk mem-backup," sebutnya.

Terlebih lagi, kapasitas Lapas Labuhanbilik maksimal sebanyak 90 penghuni, sementara saat ini jumlahnya mencapai kisaran 140 warga binaan dengan didampingi hanya 4 petugas setiap jadwalnya.

"Dengan kejadian ini, kami jadi paham dan terus meningkatkan kerjasama kepada stakeholder. Kita akui kealpaan ini, tapi terpenting kita tidak terlibat. Semoga semua ada hikmahnya dan bahan evaluasi," tambah Leonardo.

Baca Juga:
Jurnalis hingga Tokoh Masyarakat Dukung Kampung Bebas Narkoba di Labuhanbatu

Pegawai Bermasalah

Seorang pegawai Lapas Kelas III Labuhanbilik, AI yang didapati memiliki narkoba, ternyata pegawai pindahan dari lapas yang berada di luar Kabupaten Labuhanbatu.

Saat pertama kali bertugas di Lapas Labuhanbilik pada tahun 2024 lalu, Leonardo Panjaitan telah berulangkali memberikan nasihat tentang kinerja, baik kepada AI maupun pegawai lainnya.

Namun dikarenakan keterbatasan, tindakan seluruh pegawai atau pun warga binaan, diakuinya tidak keseluruhannya terpantau penuh setiap harinya.

"Iya, oknum itu berstatus PNS, pindahan sekitar tahun 2024. Dia (AI) dipindah karena alasan bermasalah, makanya selalu kita beri nasihat. Tapi, saya juga punya keterbatasan," akunya.

Keberadaan Lapas Kelas III Labuhanbilik, memungkinkan jadi incaran para bandar sabu untuk menjalankan bisnis haram peredaran narkoba.

Berbagai cara dan pola, pasti akan terus dilakukan para bandar yang memiliki latar belakang sulit dipantau sekaligus memiliki ekonomi yang terbilang baik.

"Pasti, cerita latar belakang ekonomi pegawai juga selalu jadi pintu masuk para bandar. Mereka akan terus berupaya masuk, segala cara dan melihat peluang akan diupayakan bandar," bener Leonardo lagi.

Untuk memutuskan mata rantai peredaran narkoba, khususnya di Lapas Kelas III Labuhanbilik, pihaknya kini menambah petugas yang direkrut dari pegawai administrasi serta Polsek setempat.

"Pegawai kita jadi double job, ikut diperbantukan. Dengan pihak Polsek kita perkuat razia, kini sudah 2 kali dalam seminggu. Upaya mempersempit terus kita lakukan," jelasnya.

Ke depan, dirinya maupun pihak terkait lainnya diharap menjadikan peristiwa pengungkapan peredaran narkoba di Lapas Kelas III Labuhanbilik menjadi bahan perbaikan.

"Termasuk info kawan-kawan dari luar, sangat kita butuhkan. Terpenting, faktor penyebab dapat diketahui dan dilakukan perbaikan. Apakah karena jumlah personel atau karakter pegawai hingga mental warga binaan. Saya selalu di depan untuk perbaikan itu," tegas Leonardo Panjaitan.

Terkait peristiwa temuan berbagai jenis narkoba, Leonardo sendiri mengakui dirinya telah diperiksa 3 kali oleh atasannya. Apapun terjadi, dia mengaku telah membeberkannya dengan harapan ada perubahan.(*)