KETIK, PACITAN – Sebanyak 18 siswa baru Sekolah Rakyat Kabupaten Pacitan tahun ajaran 2026/2027 memilih mengundurkan diri setelah mengikuti pendidikan.
Salah satu alasan yang disampaikan adalah ketidakbetahan dengan pola pendidikan dan kehidupan asrama yang diterapkan di sekolah tersebut.
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinas Sosial Kabupaten Pacitan Agung Mukti Wibowo mengatakan, 18 siswa tersebut merupakan bagian dari 260 siswa baru yang diterima pada tahun ajaran 2026/2027.
“Dari jumlah keseluruhan sebanyak 260 siswa baru, ada 18 murid yang mengundurkan diri atau pulang,” kata Agung, Senin, 28 September 2026.
Dari 18 siswa yang mengundurkan diri, lima di antaranya berasal dari jenjang sekolah dasar (SD), delapan siswa dari sekolah menengah pertama (SMP), dan lima siswa dari sekolah menengah atas (SMA).
Baca Juga:
3 Usaha di Pacitan Diadukan Warga Gegara Cemari Lingkungan, Ada Warung Makan-Kandang AyamAgung menjelaskan, salah satu faktor yang membuat siswa memilih pulang berkaitan dengan pola kehidupan asrama.
Termasuk adanya pembatasan penggunaan telepon seluler selama mengikuti pendidikan.
Sekolah telah mengatur jadwal penggunaan telepon seluler bagi siswa.
Selain itu, siswa juga harus mengikuti metode pembinaan serta pola kehidupan asrama yang telah ditetapkan.
Baca Juga:
Marak Kecelakaan Libatkan Anak Bawah Umur, Kapolres Pacitan: “Mulut Saya Sampai Berbusa”“Tidak krasan, dimungkinkan karena ada pembatasan handphone. Ada pengaturan jadwal memegang handphone, metode pembinaan dan pola asrama,” ujarnya.
Selain 18 siswa yang telah mengikuti pendidikan, terdapat pula calon siswa yang mengundurkan diri sebelum mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
Agung mengatakan, terdapat orang tua dan calon siswa yang sebelumnya telah menyatakan setuju mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat, tetapi keputusan tersebut tidak mendapat persetujuan anggota keluarga lainnya, seperti nenek calon siswa.
Meski terdapat siswa yang memilih mengundurkan diri, Agung memastikan pengelolaan pendidikan dan pengasuhan di Sekolah Rakyat telah dilengkapi wali asuh asrama dan guru pengajar.
“Dari manajemennya sendiri sudah ada wali asuh asrama, guru ajar juga sudah ada. Manajemen pembelajaran dan pengasuhannya sudah terjaga dengan baik,” kata Agung.
Kebutuhan sehari-hari siswa, termasuk konsumsi, juga dijamin oleh pengelola sekolah.
Untuk makanan, Sekolah Rakyat Pacitan saat ini tidak menggunakan program Makan Bergizi Gratis (MBG), melainkan memiliki manajemen sendiri.
“Kalau soal makan, saat ini dari pihak sekolah bukan MBG. Ada manajemen sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, seluruh siswa Sekolah Rakyat Pacitan kini telah menempati gedung baru.
Sebelumnya, kegiatan pendidikan berlangsung di Balai Latihan Kerja (BLK) dan balai pelatihan milik Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Perpindahan ke gedung baru dilakukan sejak 15 Agustus 2026.
Adapun gedung lama BLK yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan Sekolah Rakyat kini dalam kondisi kosong.
Agung belum dapat memastikan pemanfaatan aset tersebut setelah revitalisasi, apakah akan kembali digunakan BLK atau dialihkan untuk kebutuhan lainnya.
Menurutnya, kewenangan pengelolaan aset berada pada bidang lain di lingkungan pemerintah daerah.
“Saya belum berani menjawab mau dihibahkan ke BLK maupun lainnya. Itu kewenangan aset berada di bidang lain. Saya fokusnya ke siswa,” kata Agung.(*)