KETIK, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat diplomasi budaya internasional lewat penyelenggaraan Summer Course on Sastra Melayu 2026 yang digelar Fakultas Sastra UM.
Program ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa internasional untuk mengenal lebih dalam sastra Melayu sekaligus memahami keberagaman budaya Indonesia dalam lingkup ASEAN.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pada 22–25 April 2026 itu mengangkat tema Literature as Cultural Bridge: Celebrating the Spirit of Sastra Melayu in ASEAN. Melalui tema tersebut, peserta diajak melihat sastra Melayu sebagai penghubung budaya yang masih memiliki peran penting di tengah perkembangan masyarakat modern Asia Tenggara.
Sebanyak 141 peserta dari berbagai negara seperti Thailand, China, Pakistan, Sudan, dan India ikut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan akademik maupun budaya yang disiapkan Fakultas Sastra UM. Program ini juga menjadi langkah kampus dalam memperluas internasionalisasi melalui kolaborasi budaya dan penguatan literasi global.
Dekan Fakultas Sastra UM menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada masyarakat internasional melalui karya sastra.
Baca Juga:
UM Belum Minat Kelola SPPG, Pilih Perkuat Riset Gizi dan Pangan LokalPada hari pertama, kegiatan diisi dengan public lecture bersama akademisi dan praktisi sastra yang membahas perkembangan sastra Melayu di era modern, termasuk isu perempuan dalam karya sastra. Sesi keynote lecture menghadirkan Dr. Shivani Sivagurunathan dari University of Nottingham Malaysia dan Prof. Evi Eliyanah dari Universitas Negeri Malang.
Selain itu, sesi featured speech turut menghadirkan Andre Septiawan yang merupakan emerging writer Ubud Writers and Readers Festival serta Dr. Varavejbhisis Yossiri dari YRU Thailand. Kehadiran para pembicara dari berbagai negara memberikan sudut pandang baru mengenai perkembangan sastra dan budaya di kawasan Asia Tenggara.
Memasuki hari kedua, peserta disambut dengan berbagai pertunjukan sastra dan budaya. Mulai dari pembacaan puisi oleh Prof. Yuni Pratiwi, musikalisasi puisi dari Griya Sastra Puisi, penampilan tari tradisional oleh Gita Lenggang Tari, hingga drama “Sibottar Mudar” yang dipersembahkan Teater Pelangi.
Drama tersebut menceritakan kisah Siboru Namotung yang menikah dengan makhluk gaib bernama Guru Sodungdangon. Konflik yang muncul dari ambisi Raja Barus dalam cerita itu menggambarkan konsekuensi pilihan hidup sekaligus asal-usul hubungan leluhur Pasaribu dan Simamora.
Baca Juga:
Perkuat Tata Kelola Kampus, UM Resmi Lantik Pejabat BaruTak hanya menikmati pertunjukan seni, peserta juga diajak mengikuti workshop gamelan dan keramik sebagai bentuk pengalaman belajar budaya secara langsung.
Pada hari ketiga, peserta melakukan kunjungan sejarah ke Candi Singosari dan Museum Singhasari. Dalam kegiatan tersebut, mereka mempelajari sejarah Kerajaan Tumapel serta kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Peserta juga berkesempatan melihat berbagai benda bersejarah, termasuk keris yang telah berusia ratusan tahun.
Sementara pada hari terakhir, kegiatan ditutup dengan proyek penulisan puisi yang menjadi refleksi pengalaman peserta selama mengikuti Summer Course. Karya-karya tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan peserta lain dan panitia sebagai bentuk ekspresi budaya sekaligus hasil pembelajaran lintas negara.
Ketua pelaksana kegiatan berharap program ini mampu memperluas pemahaman peserta mengenai sastra Melayu sekaligus mempererat hubungan akademik internasional.
“Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mempelajari sastra Melayu, tetapi juga memahami keberagaman budaya ASEAN secara lebih luas,” ujarnya.
Program Summer Course on Sastra Melayu 2026 ini juga mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 17 mengenai kemitraan global. Lewat kolaborasi lintas budaya dan negara, Fakultas Sastra UM terus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang inklusif, berkelanjutan, serta berwawasan internasional. (*)