KETIK, PACITAN – Lebih dari sepekan sejak hasil uji laboratorium keluar pada 17 April 2026 lalu, kepastian operasional SPPG Kebondalem di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, terkait kasus dugaan keracunan MBG belum juga diputuskan.

Hingga kini, layanan masih dihentikan sementara sambil menunggu keputusan dari Badan Gizi Nasional (BGN) atas rekomendasi yang telah diajukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan.

Upaya konfirmasi Ketik.com kepada pihak BGN di Pacitan telah dilakukan sejak 20 hingga 28 April 2026. 

Namun, Koordinator wilayah SPPG Pacitan, Listiana Asworo, belum memberikan respons.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi terkait kelanjutan operasional SPPG Kebondalem.

Baca Juga:
Sasar 99 Desa di 12 Kecamatan, 2.500 Rumah Tak Layak Huni di Pacitan Direhab Tahun Ini

Kepala Dinkes Pacitan, Daru Mustikoaji, sebelumnya menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan beserta rekomendasi perbaikan telah diserahkan kepada BGN melalui satuan tugas.

Proses selanjutnya sepenuhnya menjadi kewenangan BGN.

“(SPPG) masih ditutup sementara. Kami sudah mengajukan rekomendasi perbaikan ke BGN. Nanti tergantung BGN kapan bisa dibuka kembali,” ujarnya, Senin, 20 April 2026.

Dari hasil uji laboratorium di Surabaya dan Yogyakarta terhadap sampel makanan yang diambil pada 8 sampai 10 April 2026, ditemukan adanya kontaminasi bakteri.

Baca Juga:
Waspada! 133 Warga Pacitan Terpapar Leptospirosis hingga April, Petani Diminta Gunakan APD

Air yang diuji di Labkesda Pacitan juga menunjukkan hasil serupa.

Beberapa menu yang dikonsumsi siswa terindikasi terkontaminasi, di antaranya sayur sawi dan edamame. Dampaknya, ratusan siswa mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, hingga pusing.

Dari total 158 siswa terdampak, sebanyak 28 siswa sempat menjalani perawatan medis. Kini seluruh siswa telah dinyatakan sembuh.

Dinkes memastikan makanan yang terkontaminasi menjadi pemicu munculnya gejala tersebut.

“Bisa dipastikan, makanan yang terkontaminasi tersebut menjadi penyebab munculnya gejala pada siswa,” ujar Daru.

Sementara itu, Kepala SPPG Sejahtera Kebondalem, Sugeng Priyatmoko, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.

“Saya pribadi memohon maaf atas kejadian yang menimpa siswa,” ujarnya, Kamis, 16 April 2026.

Ia juga menyatakan kesiapan untuk bertanggung jawab apabila terbukti makanan yang diproduksi menjadi penyebab insiden tersebut.

“Jika terbukti berasal dari makanan yang kami produksi, tentu ada prosedur dari BGN. Pada prinsipnya, siswa yang terdampak, termasuk biaya pengobatan, akan ditanggung,” ucapnya.

Di tengah belum jelasnya keputusan operasional, dampak penghentian program juga dirasakan para relawan.

Sebanyak 40 relawan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Sejahtera Kebondalem harus dirumahkan sementara sejak Senin, 13 April 2026.

Salah satu relawan ompreng, Wahyu Hariyanto (33), mengaku kehilangan sumber penghasilan yang baru saja menjadi tumpuan keluarganya.

“Senin kemarin dirumahkan, tanpa kepastian kapan bisa bekerja lagi. Katanya nunggu hasil lab,” ujarnya, Kamis, 16 April 2026.

Ia menyebut para relawan berasal dari latar belakang beragam, mulai dari petani, buruh harian lepas, hingga ibu rumah tangga.

Sebelum bergabung, ia bekerja sebagai peternak kambing dengan penghasilan tidak menentu.

Kesempatan menjadi relawan pada pertengahan Maret 2026 sempat menjadi harapan baru setelah bersaing dengan sekitar 200 pendaftar.

Penghasilan dari program tersebut dinilai cukup membantu kebutuhan keluarga, termasuk anaknya yang masih berusia dua tahun.

“Kalau yang masih bujang mungkin tak seberapa. Tapi bagi yang sudah nikah tentu sangat berat,” keluhnya.

Kini, setelah dirumahkan, ia mengaku kembali dihantui kekhawatiran ekonomi.

“Ya bingung juga kalau begini,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan satpam SPPG Kebondalem, Hamim Tohari (22), yang memilih pasrah.

“Ya bisanya pasrah. Semoga segera bisa beroperasi kembali,” ujarnya.(*)