KETIK, JAKARTA – Nama Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai, Djaka Budi Utama kembali menjadi perhatian publik setelah namanya ikut disebut dalam surat dakwaan kasus dugaan suap pengurusan impor di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang menjerat Bos Blueray Cargo Group, John Field.

Nama Djaka muncul dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat pada Rabu, 6 Mei 2026.

Dalam dokumen dakwaan, Djaka disebut hadir dalam sebuah pertemuan antara sejumlah pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bersama para pengusaha kargo di Hotel Borobudur Jakarta sekitar Juli 2025.

Pertemuan itu disebut menjadi bagian dari rangkaian komunikasi sebelum dugaan praktik pengondisian jalur impor terjadi.

Meski demikian, hingga saat ini dakwaan belum menguraikan adanya penerimaan uang atau fasilitas oleh Djaka sebagaimana yang dituduhkan kepada sejumlah pejabat lain dalam perkara tersebut.

Baca Juga:
Dukung Kebijakan Prabowo, LaNyalla Sebut Dana Sitaan Korupsi untuk MBG Wujud Keadilan Substantif

Profil Letjen Djaka Budi Utama

Sosok Djaka sendiri dikenal memiliki latar belakang panjang di dunia militer dan intelijen sebelum dipercaya memimpin Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Jenderal TNI bintang tiga kelahiran 9 November 1967 itu merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1990. 

Dalam perjalanan kariernya, Djaka pernah menduduki berbagai posisi strategis di lingkungan TNI.

Namanya juga sempat dikenal sebagai bagian dari Tim Mawar pada periode 1997-1998. 

Baca Juga:
Ketua BURT DPR: Kolaborasi Media dan Parlemen Penting Kawal Aspirasi Rakyat

Setelah itu, karier militernya terus menanjak melalui sejumlah jabatan penting, mulai dari Komandan Yonif 115/Macan Lauser, Danrem 012/Teuku Umar, hingga Danpusintelad.

Djaka kemudian dipercaya menduduki posisi strategis di bidang intelijen dan pengamanan nasional. 

Ia pernah menjabat Waaspam Kasad, Kepala Staf Kodam XII/Tanjungpura, Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam, hingga Asisten Intelijen Panglima TNI.

Pada 2024, Djaka dipercaya menjadi Irjen Kementerian Pertahanan sebelum akhirnya dilantik sebagai Sekretaris Utama Badan Intelijen Negara pada 18 Oktober 2024.

Karier Djaka di pemerintahan sipil berlanjut ketika Presiden Prabowo Subianto menunjuknya sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menggantikan Askolani, ia resmi dilantik pada 23 Mei 2025.

Saat itu, pemerintah menaruh harapan besar kepada Djaka untuk memperkuat pengawasan dan penerimaan negara dari sektor kepabeanan serta memperbaiki integritas institusi Bea Cukai.

Namun kini, namanya ikut terseret dalam perkara dugaan suap impor yang melibatkan sejumlah pejabat DJBC dan pengusaha kargo.

Dalam dakwaan, jaksa mengungkap dugaan pengondisian jalur merah dan jalur hijau impor untuk mempermudah proses masuk barang milik Blueray Cargo Group. 

Skema tersebut diduga melibatkan sejumlah pejabat Direktorat P2 DJBC dengan nilai suap mencapai lebih dari Rp61 miliar serta fasilitas mewah lainnya.(*)