KETIK, SORONG – Sebanyak 80 siswa SD dan SMP di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua mengalami keracunan pada Senin, 4 Agustus 2026.
Menanggapi kejadian tersebut aktivis Papua Charles Kossay menyayangkan dan turut prihatin atas kelalaian dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Aktivis Papua itu menjelaskan, "Setelah mengonsumsi makanan itu, para korban mengalami gejala mual, muntah, sakit perut, dan lemas setelah mengonsumsi makanan tersebut", ungkap Charles Kossay. Rabu, 5 Agustus, 2026.
Dia menambahkan, para korban yang mengalami keracunan langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat dan RSUD Yowari untuk mendapat penanganan medis.
"Peristiwa ini sangat memprihatinkan. Mengingat sasarannya adalah anak sekolah, maka SPPG di Depapre maupun seluruh SPPG di Kabupaten Jayapura harus dievaluasi total pelayanannya dan ditutup sementara" ujar Charles Kossay.
Baca Juga:
UNISMA Dukung Program Ngalam Pinter Lewat Kerja Sama dengan Pemkot MalangMenurutnya, distribusi MBG dari SPPG terkait harus dihentikan sampai ada hasil uji laboratorium makanan dan minuman serta audit dapur SPPG. Proses ini juga harus transparan dan melibatkan semua pihak penyelenggara.
"Tujuannya satu, menjamin keamanan pangan agar kejadian serupa tidak terulang. Anak-anak sekolah adalah prioritas, bukan tempat percobaan", kata Charles.
Ia menilai, program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya bertujuan untuk mencerdaskan dan menyehatkan anak. Untuk itu perlu adanya jaminan keamanan, higienitas, dan pengawasan yang ketat supaya kejadian tersebut kedepan tidak terulang kembali.
"Jangan sampai karena kelalaian, program baik ini justru merugikan masyarakat," pungkasnya. (*)