KETIK, MALANG – Ribuan mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang telah memasuki Ma'had Sunan Ampel Al-Aly UIN Malang pada Senin, 10 Agustus 2026. Proses kedatangan mahasantri akan berlangsung hingga 14 Agustus 2026. Kedatangan para mahasiswa baru ini menjadi tanda tahun ajaran baru 2026/2027 akan segera dimulai.
UIN Malang mencatat sebanyak 4.866 mahasiswa baru telah mendapatkan NIM. Dari jumlah data tersebut, tercatat 2.884 perempuan dan 1.982 laki-laki. Ini juga termasuk 3 orang mahasiswa non-muslim. Dari data tersebut, 76% berasal dari Jawa Timur. Jumlah ini masih akan terus bertambah hingga tanggal 14 Agustus 2026.
Dengan ribuan mahasiswa baru, Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Malang telah mengatur jadwal kedatangan mahasantri per harinya sebanyak 1.500 orang untuk mencegah terjadinya overload atau kemacetan pada jalan raya.
Kedatangan mahasantri baru ini diawali dengan validasi data dengan berkas-berkas yang telah ditentukan yang berpusat di kampus 1. Kemudian mahasantri bisa menuju mabna masing-masing untuk melakukan pemeriksaan barang bawaan. Pusat Ma'had Al-Jam'iah UIN Malang juga menyiapkan transportasi untuk mengantar mahasantri yang bertempat di kampus 2 dan 3.
Tak hanya itu, Pusat Mahad Al-Jami'ah juga telah membuat peraturan baru bagi mahasiswa tahun 2026. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saat ini mahasantri tidak diperbolehkan beraktivitas di luar mahad selama dua bulan pertama.
Baca Juga:
Ironi HUT ke-81 RI, SDN Kebonsari 2 Kota Malang Masih Krisis Guru KelasAhmad Izzuddin, Direktur Ma'had Sunan Ampel Al-Aly, menjelaskan bahwa hal itu bertujuan untuk memberikan waktu bagi para mahasiswa baru agar bisa beradaptasi di asrama.
"Kalau misalnya kegiatannya dilakukan outdoor, dua bulan ini kita minta tidak ada kegiatan outdoor, baik yang dilakukan intra ataupun extra untuk memberi ruang teman-teman mahasiswa baru untuk adaptasi dulu dengan suasana di Malang. Kalau terlalu padat, akhirnya mereka hilangkan fokus," ujar Izzudin.
Selain itu, Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Malang juga telah memutuskan bahwa mahasantri tidak diperbolehkan pergi ke destinasi wisata alam jika tidak ada bukti pengalaman.
Izzudin menjelaskan pengalaman tahun kemarin ada mahasantri yang sampai meninggal di pantai, tahun ini para mahasiswa baru yang tidak memiliki pengalaman atau belum pernah datang ke destinasi wisata alam, tidak diperbolehkan untuk pergi.
Baca Juga:
JATMAN Kota Malang Gelar Musda di Unisma, Siapkan Regenerasi Kepemimpinan dan Program Strategis"Kalau ada mahasantri yang mau naik gunung, kita harus pastikan mereka punya basic untuk itu, minimal knowledge dasar, basic skill-nya mereka. Sudah pernah nggak ikut pelatihan mitigasi kalau di gunung apa yang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan, di pantai apa yang boleh. Nah itu, itu usaha kita untuk meminimalisir tadi," tuturnya.
Ini menjadi langkah strategis untuk menjaga keamanan mahasantri selama berada di Ma'had Sunan Ampel Al-Aly UIN Malang. Sehingga, kegiatan ospek kampus maupun prodi tidak diperbolehkan untuk digelar di luar kampus.
Kesehatan mental mahasantri juga menjadi salah satu yang menjadi fokus Ma'had Al-Jami'ah UIN Malang. Izzudin mengungkapkan jika telah menyiapkan para kakak-kakak pengurus yang bisa diandalkan. Mereka telah diberikan pelatihan terkait tanda-tanda permasalahan kesehatan mental.
"Maka kami menyiapkan kakak-kakak tingkat yang memang punya pengetahuan. Bisa diandalkan untuk bisa mendeteksi secara cepat mana ada adiknya yang punya potensi untuk itu," ungkapnya.
UIN Malang juga menyiapkan tempat untuk para mahasiswa baru konsultasi kesehatan mental di Fakultas Psikologi. Sehingga, para mahasantri atau maba bisa menceritakan tekanan mental yang sedang dirasakan dan nanti akan diberikan solusi.
Kedatangan mahasantri baru ini menjadi tanda perkuliahan tahun ajaran baru 2026/2027 akan dimulai dan menjadi komitmen bagi UIN Malang untuk memberikan pelayanan pembelajaran yang nyaman bagi mahasiswa baru.(*)