KETIK, MALANG – Kondisi memprihatinkan melanda Ranu Pani. Danau yang berada di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, ini terancam lenyap.
Luas danau alami di kaki Gunung Semeru tersebut terus menyusut. Pada 2020 lalu, luas Ranu Pani diperkirakan tinggal sekitar 4 hektare. Padahal, sebelumnya luas danau ini diperkirakan mencapai 7 hektare.
Selain luasannya yang terus berkurang, kedalaman danau juga mengalami penurunan drastis.
“Saat ini, kedalaman danau tinggal sekitar dua meter. Padahal dulu bisa belasan meter. Bahkan, orang-orang tua dulu bilang kedalaman Ranu Pani lebih dari 20 meter,” kata Tain, salah seorang warga Desa Ranu Pani.
Menurut pria berusia 66 tahun tersebut, penyebab utama pendangkalan Ranu Pani adalah sedimentasi. Tanah dari kebun dan ladang di sekitar danau tergerus lalu terbawa air hujan masuk ke dalam danau.
Baca Juga:
Pawon Tengger, Perapian yang Menjadi Pusat Kehidupan Masyarakat Kaki Semeru“Ini karena kebun dan ladang di sekitar Ranu Pani berada di lahan yang miring. Jadi, tanah dari sana mengalir masuk ke danau setiap musim hujan,” tutur Tain.
Masalah sedimentasi memang telah menjadi persoalan Ranu Pani sejak beberapa waktu lalu. Berdasarkan pengukuran pada 2013, kedalaman Ranu Pani mencapai rata-rata 12 meter. Sementara itu, pada pengukuran di titik yang sama pada 2017, kedalaman rata-ratanya tinggal 6 meter.
Laju sedimentasi di kawasan Ranu Pani juga tergolong tinggi. Dalam sehari, diperkirakan tidak kurang dari 150 meter kubik sedimen masuk ke dalam danau tersebut.
Berbagai upaya untuk mengatasi sedimentasi telah dilakukan. Selain pengerukan, melalui bantuan JICA (Japan International Cooperation Agency), dilakukan pula upaya pemulihan ekosistem, termasuk pembangunan dam penahan sedimen.
Baca Juga:
Fenomena Embun Es Jadi Daya Tarik Pendaki Semeru, Wisatawan Asal Jakarta Rela Datang Saat BedidingNamun, menurut Tain, dalam beberapa waktu terakhir sudah tidak ada lagi kegiatan pengerukan yang dilakukan.
Selain sedimentasi, permasalahan Ranu Pani juga diperparah oleh permukaan danau yang tertutup tanaman kiambang. Tanaman yang memiliki nama latin Salvinia molesta ini merupakan spesies asal Amerika Latin.
Saat ini, hampir 30 persen permukaan Ranu Pani tertutupi tanaman kiambang. Tanaman tersebut tumbuh subur karena sedimen yang masuk ke dalam danau dari lahan pertanian penduduk mengandung pupuk, baik organik maupun kimia.
“Kalau tidak ada penanganan, bisa jadi Ranu Pani nanti tinggal cerita. Padahal, danau ini juga merupakan salah satu sumber air yang disucikan oleh masyarakat Tengger,” ucap Tain dengan nada prihatin.
“Semoga ada perhatian untuk Ranu Pani agar tidak sampai hilang,” tandasnya.