KETIK, SURABAYA – Puluhan jurnalis di Surabaya dan sekitarnya antusias mengikuti Workshop Laws of The Game yang digelar Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan dukungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu, 18 April, 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Studio Gedung U5 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa tersebut menghadirkan Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, sebagai narasumber utama.
Selama lebih dari dua jam, para jurnalis yang kerap meliput kompetisi sepak bola nasional, mulai dari kasta terbawah hingga tertinggi, termasuk pertandingan tim nasional di berbagai kelompok usia, mendapatkan wawasan baru terkait aturan-aturan perwasitan terkini.
Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di dunia perwasitan, Ogawa membagikan pengetahuan mendalam seputar Laws of The Game. Materi yang disampaikan dinilai sangat berharga bagi para jurnalis dalam memahami sudut pandang wasit.
Baca Juga:
Bagaimana Kesan Jadi Istri Wartawan? Ini Kisah Erva Mendampingi Akhmad Munir dari Nol Sampai Puncak KarirOgawa menjelaskan, Komite Wasit PSSI terus menjalankan program edukasi dan pelatihan wasit secara berkelanjutan, mulai dari level grassroots hingga profesional. Selain itu, pihaknya juga berupaya memastikan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi para wasit.
"Namun, masih ada bentuk kekerasan terhadap perangkat pertandingan dari level amatir hingga tertinggi," tegas Ogawa.
Pria kelahiran 1959 itu mengaku tidak sependapat dengan anggapan bahwa kekalahan tim selalu disebabkan oleh wasit. Menurutnya, dalam praktiknya, profesi wasit kerap menjadi pihak yang menerima komplain.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ogawa membuka ruang komunikasi dengan klub. Ia bahkan aktif mengunjungi klub-klub untuk berdialog langsung.
Baca Juga:
Khofifah Bahas Kerja Sama Sister Province Jatim–Alexandria, Fokus Perdagangan dan Pendidikan"Salah satu tujuannya, kami ingin memperdalam pemahaman klub-klub tersebut terhadap perwasitan. Dari situ kami dapat wawasan tentang bagaimana sepak bola Indonesia berjalan,' jelasnya.
Ia menambahkan, perbedaan interpretasi antara klub dan Laws of The Game kerap terjadi. Karena itu, pihaknya memberikan umpan balik berdasarkan aturan resmi yang berlaku.
Komite Wasit PSSI juga telah mengembangkan Refer System, sebuah aplikasi yang memungkinkan klub menyampaikan pertanyaan maupun komplain pascapertandingan, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.
Adapun fokus komplain dalam sistem tersebut meliputi empat aspek utama, yakni gol atau tidak, penalti atau tidak, kartu merah langsung atau tidak, serta mistaken identity.
"Setahu kami, hanya Indonesia yang memakai sistem ini di ASEAN. Di Asia pun hanya sedikit negara yang menggunakannya," ungkapnya.
Terkait kegiatan media briefing, Ogawa menyebut program ini telah berjalan sejak pertengahan 2023 di Jakarta. Ia menambahkan, di Jepang melalui JFA, kegiatan serupa juga rutin dilakukan.
Dalam kesempatan tersebut, Ogawa turut menyoroti pemberitaan sepak bola di sejumlah media. Menurutnya, masih ada laporan yang ditulis berdasarkan opini atau interpretasi pribadi, meskipun sebagian sudah sesuai dengan Laws of The Game. Padahal, kata dia, pemberitaan media memiliki dampak besar terhadap persepsi publik.
"Itulah mengapa teman-teman media juga memegang peranan kunci dalam sepak bola di Indonesia. Kami hadir untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang Laws of The Game agar kita bersama-sama bisa mengembangkan sepak bola Indonesia," terang Yoshimi Ogawa.
Workshop berlangsung interaktif dengan komunikasi dua arah. Ogawa memutarkan sejumlah cuplikan pertandingan dari BRI Super League dan Pegadaian Championship, termasuk momen key match incident (KMI) seperti keputusan penalti, kartu merah, hingga handball.
Para jurnalis diajak menganalisis setiap insiden untuk menentukan apakah termasuk pelanggaran serta layak diberikan sanksi.
Mewakili Unesa, Wakil Dekan I FIKK, Prof. Gigih Siantoro menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan tersebut.
"Kami dengan senang hati mendukung agenda yang sangat positif ini. Banyak pengetahuan baru yang kami dapatkan. Unesa membuka diri apabila agenda ini akan dilaksanakan kembali," ujar Gigih.
Para peserta pun mengaku mendapatkan wawasan baru dan menilai workshop ini penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap Laws of The Game. (*)