KETIK, PACITAN – Dugaan paparan perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Pacitan menjadi perhatian dalam beberapa bulan terakhir.
Kapolres Polres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar mengungkap pihaknya telah mengantongi data awal terkait fenomena tersebut.
Ia menyebut hingga kini jajaran kepolisian masih melakukan pemantauan dan pendalaman terhadap informasi yang diterima.
“Saya cuma punya data dan masih saya pantau terus,” ujar Ayub dalam keterangan tertulis berdasarkan informasi intelijen yang diterima pihaknya, Rabu, 21 Mei 2026.
Menurutnya, dugaan perilaku menyimpang tersebut lebih mengarah pada hubungan sesama jenis (homoseksual) dan diduga berkaitan dengan komunitas di luar daerah.
Baca Juga:
HUT ke-5, Efi Suraningsih Puji Komunitas PACE yang Istiqomah Inspirasi Anak Pacitan“Feeling kuat saya hubungan antar jenis saja dan bukan tokoh agama. Ke Jogja maksudnya jajan gitu loh. Kan di sana gay banyak,” katanya.
Meski demikian, Ayub mengaku belum dapat memastikan secara rinci siapa saja pihak yang terlibat maupun latar belakang dugaan paparan tersebut.
Pasalnya, pendalaman kasus tersebut dinilai cukup sukar untuk dibongkar.
“Tapi saya belum tahu apakah itu tokoh agama atau masyarakat biasa, karena memang sulit mendalaminya,” ujarnya.
Baca Juga:
Gold Generation Institute Soroti 'Petak Umpet' Pejabat Ponorogo, Desak KPK Usut Seluruh OPDIsu dugaan paparan LGBT di Pacitan sebelumnya juga sempat disampaikan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan beberapa waktu lalu.
Ratusan orang disebut terindikasi terpapar perilaku seksual menyimpang.
“Informasi yang kami terima menyebutkan ada sekitar 700 orang yang terindikasi terpapar. Tidak hanya remaja, tetapi juga anak di bawah umur,” kata Kepala Kemenag, Baharuddin pada akhir Januari 2026 lalu.
Pun demikian, Baharuddin menyatakan data tersebut masih bersifat awal dan belum menggambarkan kondisi sebenarnya secara menyeluruh.
“Untuk detail sebarannya kami belum tahu. Data ini masih berdasarkan informasi petugas,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena sosial tersebut menjadi tantangan serius bagi Pacitan yang selama ini dikenal sebagai daerah religius dengan kultur masyarakat yang kuat.
Ia menilai diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam melakukan pencegahan, termasuk melalui pengawasan keluarga dan pendidikan.
“Orang tua perlu memberi perhatian lebih, terutama pada pergaulan dan relasi anak di media sosial. Guru juga harus lebih ketat dalam pembinaan dan pengawasan,” pungkasnya.
Hingga kini, belum ada data resmi maupun hasil investigasi komprehensif yang dipublikasikan terkait dugaan paparan LGBT tersebut.(*)