KETIK, TULUNGAGUNG – Turnamen sepak bola antar desa paling bergengsi di Kabupaten Tulungagung, Rejoagung Cup 2026, mencapai puncaknya dengan penuh drama.

Tim Kesebelasan Desa Pulosari resmi mengukuhkan diri sebagai kampiun setelah menumbangkan perlawanan sengit Desa Sobontoro dalam laga final di Stadion Rejoagung, Minggu, 3 Mei 2026.

Duel perebutan tahta ini menyuguhkan tensi tinggi sejak peluit kick-off dibunyikan. Kedua tim yang dikenal sebagai kekuatan besar di level desa ini tampil berimbang. Jual beli serangan terus terjadi, namun rapatnya barisan pertahanan membuat skor bertahan imbang 1-1 hingga waktu normal berakhir.

Laga pun harus ditentukan melalui babak tos-tosan. Di fase krusial ini, mentalitas pemain Desa Pulosari teruji lebih tangguh. Mereka berhasil unggul tipis dengan skor 5-4 dalam babak adu penalti, memastikan trofi Rejoagung Cup 2026 sah menjadi milik mereka.

Dengan hasil ini, Desa Sobontoro harus puas di posisi runner-up, sementara Desa Besole menyusul di peringkat ketiga. Hadir langsung di tengah kemeriahan suporter, Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, memberikan apresiasi tinggi atas suksesnya turnamen yang telah bergulir sejak 11 April lalu tersebut.

Baca Juga:
Temu Kangen Alumni MAN 1 Tulungagung Angkatan 2004, 22 Tahun Terpisah Kini Kembali Eratkan Silaturahmi

“Atas nama Pemkab Tulungagung, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan Rejoagung Cup 2026 hingga berjalan sukses dan kondusif,” ujar Baharudin.

Baharudin, yang juga menjabat sebagai Ketua Askab PSSI Tulungagung, menekankan bahwa turnamen ini bukan sekadar mengejar piala.

Baginya, keterlibatan aktif desa dalam membina tim lokal adalah investasi nyata bagi masa depan pemuda agar terhindar dari kegiatan negatif.

Lebih lanjut, ia berharap Rejoagung Cup menjadi "kawah candradimuka" bagi PSSI Askab Tulungagung dalam memantau bibit-bibit unggul yang berpotensi mengharumkan nama daerah di kancah nasional.

Baca Juga:
Bersih Desa Sekaligus Lestarikan Tradisi, Pemdes Gedangan Tulungagung Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk

“Ini adalah sarana yang sangat positif. Selain memajukan prestasi sepak bola, turnamen ini menjadi jembatan silaturahmi yang mempererat persaudaraan antar pemain dan suporter di seluruh Kabupaten Tulungagung,” pungkasnya. (*)