KETIK, BLITAR – Jika biasanya Hari Kartini identik dengan kebaya dan upacara, suasana berbeda justru terasa di Kabupaten Blitar tahun ini.
Riuh sorak penonton dan derap langkah di lapangan futsal menjadi warna baru peringatan 21 April 2026, saat Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) menghadirkan turnamen futsal putri se-Blitar Raya sebagai bentuk nyata emansipasi di dunia olahraga.
Di balik gagasan tersebut, sebagai Ketua Perwosi Kabupaten Blitar, Arina Andriani Beky Herdihansah memilih menerjemahkan semangat Kartini ke dalam aksi yang lebih membumi. Bagi dia, keberanian perempuan hari ini tidak cukup hanya dirayakan, tetapi harus diberi ruang untuk tumbuh dan diuji.
“Kesempatan itu penting. Dari situ lahir mental, keberanian, dan kualitas,” ujarnya singkat namun tegas.
Selama dua hari pelaksanaan, 20 tim turun bertanding, terdiri dari 12 tim jenjang SMP dan 8 tim SMA. Atmosfer kompetisi terasa hidup. Setiap pertandingan bukan sekadar adu skor, melainkan perjalanan kecil para siswi dalam menemukan rasa percaya diri dan daya juang.
Baca Juga:
Christine Indrawati Ungkap Makna Kartini, Perempuan Blitar Harus Berani BerkontribusiLapangan futsal pun menjelma seperti ruang kelas tanpa dinding tempat strategi dipelajari, emosi dikendalikan, dan mimpi mulai dirangkai.
Di sisi lain, Kepala Dispora Kabupaten Blitar, Anindya Putra Robertus, melihat ajang ini sebagai momentum penting dalam peta pembinaan olahraga pelajar.
“Ini bukan hanya turnamen. Kami melihat ini sebagai bagian dari proses menuju Pekan Olahraga Pelajar Jawa Timur,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dari kompetisi seperti inilah bibit-bibit atlet bisa dipetakan sejak dini untuk dipersiapkan ke level provinsi.
Baca Juga:
Halalbihalal Berubah Jadi “Sidang Rakyat”, Petani Blitar Desak Perhutanan Sosial Tak Lagi MandekMenariknya, sekitar 80 persen peserta berasal dari wilayah Kabupaten Blitar. Angka ini menjadi sinyal bahwa geliat olahraga futsal putri mulai menemukan pijakan yang kuat di daerah.
Untuk hasil akhir, SMPN 1 Wlingi tampil dominan di kategori SMP dengan meraih juara pertama, disusul SMPN 2 Wlingi. Posisi ketiga bersama ditempati SMPN 3 Nglegok dan SMPN 2 Ponggok. Sementara di tingkat SMA, SMKN 2 Blitar keluar sebagai juara, diikuti SMK Indonesia, serta SMKN 1 Blitar dan SMAN 4 Blitar sebagai peringkat ketiga bersama.
Namun bagi Arina, angka dan trofi bukan inti dari cerita ini.
“Yang paling penting adalah prosesnya. Dari sini mereka belajar berani tampil, belajar kalah, belajar bangkit,” katanya.
Ia berharap langkah kecil ini bisa menjadi awal dari perjalanan panjang. Sebab di setiap lari di lapangan itu, tersimpan mimpi-mimpi besar tentang perempuan yang tak hanya berdiri sejajar, tetapi juga melesat jauh ke depan. (*)