KETIK, BOGOR – Dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga mulai mengancam keberlanjutan budi daya ikan. Kenaikan suhu udara dan perairan diketahui dapat mengganggu proses reproduksi ikan sehingga berpotensi menurunkan produksi benih.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Agus Oman Sudrajat, mengatakan reproduksi ikan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Ketika suhu air meningkat akibat perubahan iklim, proses pelepasan hormon reproduksi dapat terganggu sehingga induk ikan gagal mencapai kematangan gonad dan tidak mampu memijah secara optimal.

“Pernah terjadi pada tahun 2017 saat kemarau panjang, banyak induk ikan budi daya di hatchery tidak matang gonad. Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan pada akhirnya akan diterjemahkan dan direspons oleh hormon di dalam tubuh ikan,” ujarnya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari laman resmi IPB, Selasa, 30 Juni 2026. 

Menurut Prof Agus, gangguan reproduksi tersebut menjadi ancaman serius karena pasokan benih merupakan fondasi utama keberhasilan sektor akuakultur. Jika jumlah benih berkurang, produktivitas ikan budi daya juga akan ikut menurun.

Karena itu, diperlukan inovasi yang mampu menjaga reproduksi ikan tetap berlangsung meski kondisi lingkungan berubah.

Baca Juga:
Teknologi Kontrol Hormon Bikin Ikan Bisa Memijah Sepanjang Tahun, Ini Penjelasannya

Melalui teknologi kontrol hormonal reproduksi, induk ikan dapat tetap menghasilkan benih sepanjang tahun tanpa harus bergantung pada musim hujan yang selama ini menjadi periode pemijahan alami sebagian besar ikan tropis.

“Inovasi ini memungkinkan pembenih dan pembudi daya menghasilkan benih sepanjang tahun, tidak lagi bergantung pada musim hujan yang selama ini menjadi periode reproduksi alami sebagian besar ikan tropis. Dengan demikian, pasokan benih dapat terjaga dan mendukung peningkatan produksi ikan budi daya secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Prof Agus menambahkan, teknologi tersebut kini semakin mudah diakses karena produknya telah tersedia melalui berbagai platform perdagangan daring sehingga pembudi daya skala kecil juga dapat memanfaatkannya.

Ia optimistis penerapan teknologi reproduksi berbasis hormon mampu meningkatkan produktivitas hatchery, membuka peluang pengembangan spesies baru, sekaligus mendukung konservasi melalui penyediaan benih untuk restocking ikan di perairan alami.

Baca Juga:
Studi WWA: Perubahan Iklim-Bahan Bakar Fosil Jadi Biang Keladi Gelombang Panas Rekor di Eropa

“Kontrol hormonal reproduksi bukan hanya teknologi untuk meningkatkan produksi, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, mendukung keberlanjutan akuakultur, dan menjaga keanekaragaman hayati perikanan Indonesia,” pungkasnya. (*)