KETIK, TULUNGAGUNG – Pemerintah Desa Bendiljati Wetan Kabupaten Tulungagung menggelar peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang diintegrasikan dengan tradisi Bersih Desa.
Mengusung nuansa khidmat dan penuh kepedulian, rangkaian acara yang diisi dengan pengajian umum serta santunan sosial ini berlangsung di Balai Desa Bendiljati Wetan, Rabu, 24 Juni 2026 malam.
Aksi religi dan sosial ini berhasil menggalang dana santunan dengan total mencapai Rp44.768.000. Alokasi dana tersebut disalurkan secara langsung kepada 14 anak yatim piatu.
Dimana masing-masing menerima Rp1.000.000, sementara seluruh sisa dana yang terkumpul didistribusikan merata kepada kaum dhuafa di wilayah setempat.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Bendiljati Wetan, H. Sotiq Heru Riyanto, S.Hum., M.Pd., menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat.
Baca Juga:
Pagelaran Wayang Kulit "Wahyu Asmoro Jati" Semarakkan Malam Puncak Bersih Desa Besuki TulungagungBeliau memberikan penghargaan mendalam kepada jajaran RT, RW, tokoh masyarakat, serta warga yang telah bergotong-royong menyisihkan sebagian rezeki demi menyukseskan agenda tahunan ini.
"Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memadati Balai Desa malam ini. Semoga keikhlasan dan langkah kaki panjenengan semua dalam menghadiri pengajian ini membawa kerukunan, keberkahan, serta rahmat yang melimpah dari Allah SWT untuk desa kita tercinta," ujar Kades Bendiljati Wetan saat menyapa warga yang hadir.
Intisari Tausyiah, Memaknai "Mengusap" Kepala Anak Yatim
Sebagai puncak acara, kegiatan Bersih Desa ini diakhiri dengan mauidzah hasanah atau ceramah agama yang disampaikan oleh Purna. AKBP. K.H. Bahrun Nasikhin, S.Ag., M.A.
Baca Juga:
Hijrah Bangsa: Dari Janji Menuju KeadilanDalam tausiyahnya, K.H. Bahrun Nasikhin mengupas tuntas sebuah hadis mengenai keutamaan bulan Muharam, khususnya hari Asyura, sebagai momentum terbaik untuk memuliakan anak yatim. Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW:
"Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura (ke-10 di bulan Muharam), maka Allah akan mengangkat derajatnya setinggi rambut yang diusapnya."
Lebih lanjut, beliau mengajak jamaah untuk berdiskusi dan mendalami makna kata "mengusap" dalam hadis tersebut.
Secara harfiah (kauniyah), mengusap memang berarti membelai kepala anak yatim dengan lembut. Namun, makna mendalam (maknawi) yang tersirat di dalamnya adalah panggilan untuk mencurahkan rasa kasih sayang, menyantuni, serta memenuhi segala kebutuhan hidup mereka.
K.H. Bahrun Nasikhin juga menghubungkannya dengan hadis sahih lain dari Abu Darda RA, ketika seseorang mengadu kepada Rasulullah SAW karena merasa hatinya keras dan sulit menerima nasihat, serta sering merasa egois. Rasulullah SAW kemudian bersabda:
"Maukah kamu agar hatimu menjadi lembut dan hajatmu (keinginanmu) dikabulkan? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu. Niscaya hatimu akan menjadi lembut, sehat, dan engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan."
Beliau menekankan bahwa inilah alasan mengapa para ulama dan kiai sering memberikan fatwa agar umat Islam gemar bersedekah dan menyantuni anak yatim jika ingin hajat dan cita-citanya dikabulkan oleh Allah SWT.
Beliau juga mendoakan agar seluruh warga Desa Bendiljati Wetan yang telah ikhlas menyisihkan hartanya senantiasa diberikan kesehatan hati, rezeki yang berkah melimpah, serta dikabulkan segala hajatnya.
Empat Golongan yang Masuk Surga Tanpa Hisab
Menutup ceramahnya yang menyejukkan, K.H. Bahrun Nasikhin memaparkan tentang empat golongan manusia yang diistimewakan Allah SWT untuk masuk surga tanpa melalui proses hisab yang rumit, antara lain.:
1. Al-Alim al-Amil
Orang berilmu yang mengamalkan ilmunya di jalan Allah SWT demi kemaslahatan umat.
2. Asy-Syahid fi Sabilillah
Orang yang gugur berjuang membela agama dan mempertahankan kemerdekaan negaranya.
3. Al-Hajjul Mabrur
Orang yang ibadah hajinya mabrur dan membawa perubahan baik bagi lingkungannya setelah kembali ke tanah air.
4. As-Sakhiyul Karimi bi Rizqil Halal
Orang dermawan yang rajin membagikan sedekah dari sumber rezeki yang halal dan thoyyib.
Pesan-pesan religius tersebut menjadi penutup yang sejuk bagi seluruh warga, sekaligus memperkuat komitmen spiritual dan sosial warga Desa Bendiljati Wetan dalam memasuki lembaran baru tahun Hijriah dengan semangat gotong royong dan kepedulian sesama. (*)