KETIK, MALANG – Perempatan Klojen Kota Malang, yang menghubungkan Jalan Cokroaminoto, Jalan Pattimura, dan Jalan Trunojoyo, menyimpan rekam jejak panjang pertumbuhan tata kota. Bukan sekadar jalur lalu lintas, perempatan ini telah menjadi simpul interaksi ekonomi dan sosial warga Malang sejak era Hindia Belanda.
Seiring berkembangnya permukiman di sekitar, Pemerintah Kotapraja Malang mendirikan Pasar Klojen pada tahun 1934 tepat di dekat persimpangan tersebut. Perempatan ini pun berkembang menjadi node atau titik temu utama pergerakan masyarakat, menghubungkan kawasan stasiun, perkantoran balai kota, hingga permukiman warga.
Di tengah kepungan gaya hidup urban dan modernisasi transportasi Kota Malang, perempatan ini uniknya tetap mengalir lancar meski tanpa lampu lalu lintas (traffic light). Kunci kelancaran dan ketertiban arus kendaraan di sini berada di tangan seorang Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas). Dengan peluit dan gerakan tangan yang sigap, sosok ini setia mengarahkan kendaraan dari pagi hingga malam demi menjaga keselamatan pengguna jalan.
Salah seorang warga sekitar, Muhammad Ilham, mengaku arus lalu lintas di perempatan tersebut lebih ramai saat akhir pekan akibat melonjaknya pengunjung wisata kuliner Pasar Klojen.
"Kalau hari biasa, tidak terlalu signifikan macetnya. Justru, macetnya itu terjadi saat akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, imbas dari Pasar Klojen ramai didatangi pengunjung dan banyak kendaraan antre untuk parkir," ungkapnya, Jumat, 28 Agustus 2026.
Baca Juga:
UIN Malang Ambil Peran di Muktamar ke-35 NU, Prof. ilfi Nur Diana Hadirkan Posko Kesehatan bagi Warga NahdliyinMeski tanpa lampu lalu lintas, insiden kecelakaan tergolong sangat jarang terjadi. Menurut Ilham, selain peran vital Supeltas, kesadaran serta tenggang rasa antar-pengendara menjadi kunci utama keselamatan bersama.
"Enggak pernah ada kecelakaan yang fatal. Selain karena faktor Supeltas, mereka yang lewat juga sudah saling memahami dan bergantian satu sama lain," pungkasnya.(*)