Pengukuhan Zainal Arifin Mochtar sebagai Profesor Hukum UGM: Tangis Haru dan Janji yang Akhirnya Terbayar

Editor: Muhammad Faizin

16 Jan 2026 10:49

Headline

Thumbnail Pengukuhan Zainal Arifin Mochtar sebagai Profesor Hukum UGM: Tangis Haru dan Janji yang Akhirnya Terbayar
Zainal Arifin Mochtar saat memeluk sang ibu dengan tangis haru, kala menghadiri pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM). (Foto: Firsto Humas UGM)

KETIK, YOGYAKARTA – Tangis itu pecah di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, Kamis, 15 Januari 2026. Di hadapan para undangan yang memenuhi ruangan, Prof. Zainal Arifin Mochtar berhenti sejenak di ujung pidato pengukuhannya sebagai guru besar. Suaranya bergetar. Tangannya terangkat menyeka air mata yang tak terbendung.

Ingatan Uceng -sapaan akrabnya- melayang pada satu sosok yang paling ingin ia lihat duduk di kursi undangan hari itu: ayahnya. Lelaki yang selalu mendorongnya membaca, berpikir, dan berani bersuara itu telah lebih dulu berpulang. Kebahagiaan yang seharusnya utuh mendadak terasa berlubang.

Tahun 2017 menjadi titik paling sunyi dalam hidup Uceng. Di tahun itulah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan dua pesan yang tertanam kuat. Pertama, menjaga dan merawat ribuan buku warisan pemikiran sang ayah. Kedua, menuntaskan perjalanan akademik hingga menjadi guru besar. Dua janji itu tidak mudah, tetapi hari itu, satu per satu telah ia tepati.

Begitu turun dari mimbar, Uceng langsung memeluk ibunya, Hj. Zaitun Abbas. Tangisnya pecah di dada perempuan yang selama ini menjadi saksi jatuh bangun hidupnya. Bagi Uceng, gelar profesor bukan hadiah yang datang tiba-tiba. Ia menyebutnya bukan “batu yang jatuh dari langit”, melainkan hasil dari perjalanan panjang, luka, kegagalan, dan keyakinan yang terus diuji.

Baca Juga:
Lima Profesor Baru Dikukuhkan, Unair Tegaskan Komitmen pada Inovasi dan Dampak Nyata

Ia tumbuh di rumah sederhana di Makassar, tak jauh dari Stadion Mattoangin. Di bawah atap seng, Uceng belajar mengenal dunia—tentang tawa keluarga, tentang keterbatasan, dan tentang mimpi yang perlahan tumbuh. Dari sana, ia melangkah jauh: menjadi pelajar, aktivis, mahasiswa, dosen, hingga pemikir hukum yang suaranya kerap menggema di ruang publik.

Organisasi menjadi sekolah keduanya. Dari Ketua OSIS SMA Negeri 1 Makassar, Ketua Senat Fakultas Hukum UGM, hingga terlibat di berbagai lembaga kajian dan gerakan masyarakat sipil. Ia terbiasa berada di ruang diskusi, debat, dan kritik—kadang disanjung, tak jarang diserang.

Dunia akademik membawanya berkeliling forum sejak hampir dua dekade lalu. Seminar, diskusi, lokakarya, siaran televisi, hingga forum internasional menjadi ruang belajar yang membentuk keberaniannya. “Di situlah saya bertemu orang-orang cerdas yang membantu menimbun pengetahuan,” kenangnya.

 

Baca Juga:
Ubaya Kukuhkan 10 Guru Besar Baru, Perkuat Riset dan Inovasi Kampus

Foto Zainal Arifin Mochtar atau Uceng (berdiri) saat dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) pada Kamis, 15 Januari 2026 kemarin. (Foto: Firsto/Humas UGM)Zainal Arifin Mochtar atau Uceng (berdiri) saat dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) pada Kamis, 15 Januari 2026 kemarin. (Foto: Firsto/Humas UGM)

 

Perjalanan pendidikannya terentang panjang: Sarjana Hukum UGM pada 2003, Master of Laws di Northwestern University, Amerika Serikat, pada 2006, dan doktor hukum di UGM pada 2012. Dalam perjalanannya, ia tak hanya menumpuk gelar, tetapi juga peran—dari Ketua Departemen Hukum Tata Negara UGM hingga mengisi berbagai posisi strategis nasional.

Dalam lima tahun terakhir, Uceng menulis, meneliti, dan bersuara tanpa henti. Ia menerbitkan buku, jurnal, riset, dan terlibat dalam film dokumenter Dirty Vote, yang mengukuhkan posisinya sebagai intelektual yang memilih berdiri di tengah pusaran kritik, bukan di menara gading.

Uceng selama ini memang dikenal sebagai akademisi hukum yang tidak berdiri di menara gading. Ia kerap turun aksi dan melontarkan kritikan tajamnya terhadap jalannya penegakan hukum di negeri ini yang kerap kali jauh dari rasa keadilan. 

Bagi Uceng, profesor bukanlah puncak. Ia menyebut gelar itu sebatas urusan administratif. Yang jauh lebih berat adalah tanggung jawab moral dan keberpihakan pada kepentingan publik. Ia percaya, intelektual sejati tidak harus selalu tampil, tetapi harus mampu memberdayakan pengetahuan agar masyarakat tidak terus dibodohi.

“Tanggung jawab kita kelak akan ditagih. Dari sanalah akan ditentukan Indonesia akan menjadi seperti apa,” ucapnya menutup pidato, dengan suara yang kembali tenang namun penuh beban.

Sejumlah tokoh hadir menyaksikan momen itu. Ganjar Pranowo menyebut Uceng sebagai intelektual organik yang berani bersuara berbasis data. Jusuf Kalla berharap pemikiran Uceng membantu demokrasi tetap berada di jalur yang benar. Eddy O.S. Hiariej—yang disebut Uceng sebagai saudara, teman, sekaligus lawan debat—menyebut gelar profesor itu akan membawa keberkahan bagi ilmu hukum Indonesia.

Di balik toga dan gelar, Uceng tetaplah anak yang menepati janji pada ayahnya. Hari itu, di Balai Senat UGM, air mata menjadi saksi bahwa pencapaian tertinggi manusia sering kali lahir dari cinta, kehilangan, dan kesetiaan pada nilai yang diyakini. (*)

Baca Sebelumnya

The Alana Hotel Malang Luncurkan '60 Second to Seoul', Sensasi Korean Food Autentik yang Pas di Lidah Indonesia

Baca Selanjutnya

Kawal Investasi Rp34 Miliar, DPRD Kota Malang Pastikan Gedung Parkir Kayutangan Jadi Solusi Macet dan Dongkrak PAD

Tags:

Pengukuhan Guru Besar Profesor FH UGM Zainal Arifin Mochtar Uceng

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

15 April 2026 05:41

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

Bertemu Macron di Istana Élysée, Prabowo Perkuat Kerja Sama Indonesia–Prancis

15 April 2026 05:08

Bertemu Macron di Istana Élysée, Prabowo Perkuat Kerja Sama Indonesia–Prancis

Takut Dibunuh Intel Iran, Anak Buah Netanyahu Minta PM Israel Boleh Tak Hadiri Sidang Korupsi

14 April 2026 07:20

Takut Dibunuh Intel Iran, Anak Buah Netanyahu Minta PM Israel Boleh Tak Hadiri Sidang Korupsi

Makan Sebelum Kenyang, Hara Hachi Bu: Rahasia Umur Panjang Warga Okinawa

14 April 2026 06:20

Makan Sebelum Kenyang, Hara Hachi Bu: Rahasia Umur Panjang Warga Okinawa

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

12 April 2026 11:40

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

12 April 2026 11:00

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar