KETIK, YOGYAKARTA – Penyebaran ikan invasif di berbagai perairan Indonesia tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga menjadi tantangan besar dalam upaya pengendaliannya. Para peneliti menilai sejumlah spesies memiliki kemampuan adaptasi dan reproduksi yang membuat populasinya sulit ditekan.

Dosen Fakultas Biologi UGM dari Laboratorium Ekologi Konservasi, Akbar Reza, M.Sc., menjelaskan bahwa beberapa ikan invasif mampu bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang sulit sekalipun.

“Secara ekologis, beberapa jenis ikan invasif seperti ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, bahkan sangat toleran pada logam berat sehingga terdistribusi luas. Terlebih tidak ada predator yang mampu mengontrol populasinya,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM, Minggu, 31 Mei 2026. 

Selain memiliki daya tahan tinggi, sejumlah spesies invasif juga berkembang biak dengan cepat. Kondisi tersebut membuat jumlah populasinya meningkat pesat setelah memasuki perairan umum.

Dosen Fakultas Biologi UGM dari Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan, Dr. Luthfi Nurhidayat, mengatakan lingkungan perairan di Indonesia sering kali tidak memberikan tekanan kompetisi yang cukup untuk menghambat pertumbuhan ikan invasif.

Baca Juga:
Ikan Asing Invasif Kian Mengancam Ekosistem Perairan Indonesia

“Ketika ikan-ikan invasif tersebut masuk ke dalam perairan terbuka umum di Indonesia yang tidak terlalu keras kompetisinya, maka pertumbuhan populasinya menjadi tidak terkendali,” jelas Luthfi.

Menurutnya, faktor manusia juga berperan besar dalam penyebaran spesies invasif. Banyak ikan dilepas ke perairan umum setelah tidak lagi dipelihara atau terlepas dari kolam budidaya saat terjadi banjir.

Selain itu, sebagian masyarakat masih melakukan pelepasan ikan untuk kegiatan seremonial tanpa mempertimbangkan dampak ekologis yang dapat muncul di kemudian hari.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Akbar menilai diperlukan pendekatan yang terintegrasi antara regulasi, penelitian, pengendalian lapangan, dan edukasi publik.

Baca Juga:
Ikan Sapu-Sapu Jadi Ancaman Ekosistem, Pakar UGM Dorong Pengendalian Berkelanjutan dan Larang Konsumsi

Ia menekankan pentingnya pembaruan daftar Jenis Asing Invasif (JAI) secara berkala berdasarkan hasil penelitian terbaru agar kebijakan pengendalian dapat berjalan lebih efektif.

Menurutnya, koordinasi antara BRIN, perguruan tinggi, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Badan Karantina juga perlu diperkuat guna mencegah masuk dan menyebarnya spesies invasif baru.

Sementara itu, Luthfi menyebut pengendalian di lapangan dapat dilakukan melalui penangkapan intensif, isolasi perairan tertentu, pengeringan habitat yang terinfestasi, hingga restorasi spesies lokal berbasis pendekatan ekologi.

Ia juga menilai pemanfaatan ekonomi ikan invasif dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menekan populasi spesies tersebut.

Saat ini pemerintah telah memiliki sejumlah regulasi terkait pengendalian spesies invasif, di antaranya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94 tentang Jenis Invasif serta Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 mengenai larangan pemasukan dan peredaran ikan yang membahayakan ekosistem.

Meski demikian, Luthfi menilai regulasi tersebut harus terus diperbarui agar mampu mengikuti perubahan kondisi lingkungan yang berlangsung cepat.

“Dengan penguatan kebijakan, edukasi, serta kolaborasi lintas sektor, diharapkan ancaman spesies asing invasif terhadap keanekaragaman hayati Indonesia dapat ditekan secara lebih efektif,” pungkasnya. (*)