KETIK, BATU – Taruna Tani Abinaya Milenial Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berhasil memproduksi bibit kentang dengan klasifikasi G0 (Generasi Nol).

Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menilai pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa generasi muda di Sumberbrantas mulai mengembangkan pertanian dengan memanfaatkan teknologi.

Menurut Wawali yang akrab disapa Mas Heli itu, produksi bibit kentang G0 membutuhkan ketelitian, penguasaan teknologi pertanian modern, serta konsistensi. Keberhasilan tersebut dinilai menunjukkan perubahan peran generasi muda dalam sektor pertanian.

“Keberhasilan memproduksi bibit kentang klasifikasi G0 bukanlah hal yang mudah. Ini membutuhkan ketelitian, penguasaan teknologi pertanian modern, serta konsistensi yang tinggi,” ujarnya, Jumat, 14 Agustus 2026.

Ia menilai pencapaian Taruna Tani Abinaya Milenial menunjukkan bahwa pemuda Sumberbrantas tidak sekadar meneruskan tradisi bertani.

Baca Juga:
Jalur Klemuk Kota Batu Dibatasi, Motor Matik Dilarang Melintas

Mereka mulai bertransformasi menjadi agripreneur yang memanfaatkan teknologi untuk menjawab tantangan di sektor hulu pertanian.

“Pencapaian ini membuktikan bahwa anak-anak muda kita di Sumberbrantas bukan hanya sekadar meneruskan tradisi bertani, tetapi sudah bertransformasi menjadi agripreneur berteknologi yang mampu menjawab tantangan hulu pertanian,” katanya.

Kentang hasil panen kelompok Taruna Tani Abinaya Milenial Desa Sumberbrantas. (Foto: Taruna Tani Abinaya Milenial)

Mas Heli menyebut produksi bibit kentang G0 memiliki arti penting bagi pertanian Sumberbrantas dan Kota Batu. Salah satunya berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pasokan bibit dari luar daerah maupun impor.

Baca Juga:
Proyek Simpang Empat Patih Terkendala, DPUPR Kota Batu Optimis Rampung Tahun Ini

Dengan adanya produksi G0 secara lokal, rantai pasok bibit bermutu dinilai dapat menjadi lebih pendek. Selain itu, bibit G0 yang sehat dan bebas penyakit menjadi bagian penting dalam menghasilkan bibit G1, G2 hingga kentang konsumsi dengan produktivitas tinggi.

Produksi bibit secara lokal juga dinilai dapat membantu efisiensi biaya produksi. Petani Sumberbrantas dan Kota Batu diharapkan dapat memperoleh akses terhadap bibit berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau sehingga biaya modal pertanian dapat ditekan.

Sebagai putra daerah Sumberbrantas, Mas Heli mengaku bangga melihat keterlibatan generasi muda dalam pengembangan pertanian di wilayah tersebut.

Ia menilai keberadaan Taruna Tani Abinaya Milenial turut memberikan harapan terhadap keberlanjutan regenerasi petani.

“Sebagai putra daerah asli Sumberbrantas, rasa bangga ini luar biasa. Melihat generasi muda di tanah kelahiran sendiri tidak lagi malu menjadi petani, melainkan justru memimpin inovasi pertanian, memberikan harapan baru yang sangat besar,” tuturnya yang juga menjabat Ketua Kontak Tani Nelayan (KTNA) Kota Batu ini.

Mas Heli mengungkapkan, selama ini terdapat kekhawatiran mengenai terputusnya regenerasi petani. Namun, keberadaan Taruna Tani Abinaya Milenial dinilai menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki perhatian terhadap sektor pertanian.

“Dulu kita sering khawatir akan adanya regenerasi petani yang terputus. Namun, hadirnya Taruna Tani Abinaya Milenial mematahkan kekhawatiran tersebut. Mereka membuktikan bahwa tanah Sumberbrantas tetap menjadi jantung pertanian yang adaptif dan berkemajuan di tangan anak-anak mudanya,” jelasnya.

Politisi Partai Gerindra ini menilai produksi G0 tersebut dapat menjadi pijakan awal untuk mengembangkan pembenihan kentang di Sumberbrantas.

Salah satu potensi yang disebutnya adalah menjadikan wilayah tersebut sebagai sentra pembenihan kentang yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memasok kebutuhan di Jawa Timur hingga tingkat nasional.

Potensi lain yang dapat dikembangkan ialah integrasi kegiatan pembenihan dengan edukasi dan agrowisata. Laboratorium atau rumah kassa produksi G0 dapat dikembangkan menjadi pusat edukasi pembenihan bagi pelajar, mahasiswa maupun kelompok tani dari daerah lain.

Selain itu, pengembangan usaha pembenihan dapat dilanjutkan ke tahap G1 dan G2 secara terintegrasi dan profesional.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemerintah Kota Batu berkomitmen memberikan pendampingan melalui penguatan sarana dan prasarana. Dukungan tersebut antara lain penyediaan screenhouse atau rumah kassa, modernisasi peralatan laboratorium hingga sarana irigasi yang presisi.

“Tahun ini dibangun lab hortikultur. Laboratorium Pertanian di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, menjadi salah satu program Mbatu SAE,” ujar Mas Heli.

Pemkot Batu juga akan mendorong aspek sertifikasi dan legalitas agar bibit yang dihasilkan memiliki legalitas resmi sehingga dapat dipasarkan lebih luas.

Selain itu, kelompok tani akan dihubungkan dengan akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta peluang kemitraan dengan BUMN dan sektor swasta.

Pendampingan teknis dan manajerial juga akan terus dilakukan untuk memperkuat kelembagaan kelompok tani.

Mas Heli berharap Taruna Tani Abinaya Milenial tidak cepat berpuas diri setelah berhasil memproduksi bibit kentang G0. Ia mendorong kelompok tersebut mempertahankan mutu sekaligus meningkatkan kapasitas produksi secara berkelanjutan.

Selain menjaga keberlanjutan produksi, Mas Heli juga berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi contoh bagi pemuda di desa dan kelurahan lain di Kota Batu bahwa pertanian dapat menjadi sektor yang menjanjikan apabila dikelola dengan pengetahuan.

Target lainnya adalah menjadikan Desa Sumberbrantas sebagai kawasan pertanian modern berbasis teknologi pembenihan yang mandiri dan memiliki daya saing tinggi.(*)