KETIK, JAKARTA – Nama pelatih kepala Tim Nasional Senegal, Pape Thiaw, mendadak menjadi perbincangan publik selama gelaran Piala Dunia 2026.
Bukan karena strategi di lapangan atau hasil pertandingan, melainkan sikap tegasnya yang mengutamakan ibadah salat Jumat meski berada di tengah ancaman cuaca ekstrem di Amerika Serikat.
Pelatih yang juga mantan penyerang legendaris Senegal itu menarik perhatian media internasional setelah tetap membawa para pemain dan staf Muslim meninggalkan hotel untuk menunaikan salat Jumat di masjid terdekat saat wilayah New Jersey diterpa angin kencang dan ancaman badai tornado.
Saat itu, otoritas keamanan setempat meminta seluruh tim peserta yang berada di kawasan tersebut untuk tetap berada di dalam hotel demi alasan keselamatan.
Namun bagi Thiaw, kewajiban beribadah tidak bisa ditinggalkan hanya karena kondisi cuaca yang buruk.
Baca Juga:
Inilah Jadwal Amerika Serikat vs Australia: Duel Penentu Takhta Grup D Piala DuniaKeputusan tersebut langsung menjadi sorotan media Amerika Serikat.
Dalam konferensi pers menjelang pertandingan Senegal, sejumlah jurnalis mempertanyakan langkah yang dianggap berisiko tersebut.
Salah seorang jurnalis bahkan secara langsung menanyakan alasan Thiaw tetap keluar hotel meski ada peringatan cuaca ekstrem.
"Hari itu ada angin yang sangat kencang di New Jersey, dan petugas keamanan sudah meminta semua tim untuk tidak keluar demi keselamatan. Mengapa Anda tetap keluar hanya untuk salat?" tanya seorang jurnalis.
Baca Juga:
Jadwal Piala Dunia 2026 Sabtu 20 Juni: Brasil dan Maroko Berburu KemenanganMendapat pertanyaan tersebut, Thiaw menjawab dengan tenang namun tegas.
"Apakah ada yang lebih penting daripada salat? Saya rasa itu bukan urusan Anda," jawab Thiaw dikutip dari Faithfull Ballers.
Pernyataan tersebut sontak membuat suasana ruang konferensi pers menjadi hening.
Ia kemudian menjelaskan bahwa bagi dirinya dan tim Senegal, rasa takut kepada Allah SWT jauh lebih besar dibandingkan rasa takut terhadap ancaman cuaca.
"Kalian takut pada angin, sementara kami takut kepada Allah, Zat yang menciptakan angin. Kita datang ke sini hanya untuk pertandingan hiburan, lalu apakah kita harus lupa bahwa kita diciptakan untuk menyembah Allah? Jangan ajari kami tentang kewajiban agama kami," tegasnya.
Pernyataan itu mendapat perhatian luas di media sosial dan berbagai media internasional. Banyak yang menilai sikap Thiaw menunjukkan komitmen kuat terhadap keyakinan yang dianutnya.
Tak berhenti di situ, pelatih berusia 45 tahun tersebut kembali membuat publik terkejut saat ditanya sejauh mana dirinya akan mempertahankan prinsip tersebut selama Piala Dunia berlangsung.
Thiaw menegaskan bahwa ibadah tetap menjadi prioritas utama, bahkan jika harus berbenturan dengan pertandingan paling penting sekalipun.
Menurutnya, apabila Senegal suatu saat bermain di final Piala Dunia yang bertepatan dengan waktu salat Jumat, ia tetap akan memilih menjalankan kewajiban agamanya terlebih dahulu.
"Bahkan kalau final Piala Dunia diadakan pada Jumat siang dan kami bermain di sana, kami tetap akan keluar untuk salat Jumat, meskipun itu berarti kami harus kehilangan gelar juara," ujarnya.(*)