KETIK, PACITAN – Pemerintah Kabupaten Pacitan baru-baru ini tengah mengkaji tiga akses untuk memperkuat konektivitas daerah menuju wilayah di luar Pacitan. 

Ketiga opsi tersebut yakni, Bandara Perintis, Pelabuhan Gelon dan konektivitas kereta api melalui Jawa Tengah.

Menurut Staf Ahli Bupati Pacitan Bidang Hukum dan Politik, Djoko Putro Utomo, dari tiga pilihan tersebut, Pelabuhan Gelon disebut memiliki potensi strategis.

Pelabuhan, imbuhnya, lebih berdampak untuk memperkuat posisi Pacitan sebagai salah satu simpul ekonomi di kawasan selatan Jawa, terutama dalam memperkuat konektivitas sekaligus membuka akses investasi.

Pasalnya, pembangunan Pelabuhan Gelon memiliki konsep yang dapat memperkuat simpul transportasi di kawasan selatan Jawa, khususnya Kabupaten Pacitan.

Baca Juga:
Karya Siswa SMPN 1 Pacitan Tembus 20 Besar OPSI Nasional, Sulap Ampas Kopi Jadi Biopot

“Pembangunan Gelon ini secara konsep memang bisa membuat simpul, memperkuat simpul di Selatan Jawa, utamanya di Kabupaten Pacitan dan juga bisa mempermudah akses investasi untuk pembangunan daerah,” kata Joko, Jumat, 18 September 2026.

Sementara itu, kata dia, opsi kereta api melalui Jawa Tengah masih menghadapi sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan. 

Salah satunya berkaitan dengan trase dari wilayah utara melalui Stasiun Selaung hingga Madiun.

Menurut Joko, masih diperlukan pendekatan kepada masyarakat dalam kaitannya dengan rencana konektivitas tersebut.

Baca Juga:
Agiz Anak Pinter, Aplikasi Buatan RSUD dr Darsono Pacitan Masuk Nominasi Jatim Jagad Inovasi Award 2026

“Untuk kereta api, memang kita kemarin melihat itu ada jaringan yang dari trase utara lewat Stasiun Selaung dan Selaung sampai ke Madiun juga. Dari sisi manajemen PTK masih ada upaya pendekatan ke warga masyarakat,” katanya.

Kendala juga terdapat pada opsi konektivitas dari sisi barat menuju Wonogiri hingga Baturetno. 

Joko menyebut jalur tersebut berkaitan dengan kawasan Waduk Gajah Mungkur.

“Juga untuk sisi wilayah barat, ini sampai dengan Wonogiri Baturetno itu kan memang ada kendala di sisi waduknya ya, masuk ke Waduk Gajah Mungkur,” lanjutnya.

Selain persoalan kawasan waduk, kondisi Stasiun Baturetno di Wonogiri yang masih digunakan warga juga menjadi pertimbangan. 

Karena itu, diperlukan pendekatan khusus sebelum rencana konektivitas tersebut dapat dikembangkan.

“Di samping itu juga ada beberapa hal utamanya di Stasiun Baturetno Wonogiri ya, tetangga dengan kita di Wonogiri itu memang stasiunnya masih istilahnya digunakan oleh warga, ini juga perlu pendekatan-pendekatan khusus,” ujarnya.

Adapun untuk opsi Bandara Perintis, Joko belum menguraikan secara khusus pertimbangan teknis maupun keunggulannya dibandingkan dua opsi lainnya.

"Mohon maaf. Kalau bandara kami tidak menguasai data," ungkapnya.

Bagi Pemkab Pacitan, penguatan konektivitas menjadi bagian penting dalam mendorong perkembangan daerah. 

Konektivitas yang semakin baik diharapkan berdampak terhadap produktivitas masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan pengembangan sektor pariwisata.

“Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan ini sekali lagi produktivitas masyarakat bisa naik, PDRB bisa naik, pariwisata kita yang luar biasa ini bisa berkembang dengan baik,” katanya.

Joko juga berharap konektivitas Pacitan dengan daerah di sekitarnya, seperti Wonogiri, Solo, Yogyakarta dan Ponorogo, dapat semakin meningkat.

“Terus selanjutnya konektivitas daerah yang ada di Pacitan, yang ada di wilayah Wonogiri, Solo, Jogja, wilayah Ponorogo ini bisa lebih meningkat lagi,” pungkasnya.

Kendati dinilai paling strategis, nasib pembangunan Pelabuhan Gelon hingga kini masih menunggu kepastian. 

Proyek tersebut diketahui merupakan usulan prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Dalam prosesnya, pembangunan proyek tersebut sempat tersendat karena anggaran APBN saat itu masih berfokus pada penanganan dan pencegahan Covid-19.

Rencana pembangunan Pelabuhan Gelon sendiri telah dicanangkan sejak 2008.

Pemkab Pacitan saat itu telah melakukan pembebasan lahan seluas 1,6 hektare di kawasan Pantai Gelon, Desa Kembang.

Terbaru, langkah awal yang diambil adalah membuka akses jalan menuju lokasi pelabuhan untuk mendukung kelancaran pembangunan.

Sejumlah tahapan pembangunan mulai dilakukan sejak 2011. 

Namun, dalam perjalanannya proyek tersebut mengalami perlambatan mulai 2016 hingga saat ini.(*)