Pejalan Kaki: Menjadi Raja di Luar Negeri, Terpinggirkan di Negeri Sendiri

Editor: Mustopa

21 Feb 2026 20:16

Thumbnail Pejalan Kaki: Menjadi Raja di Luar Negeri, Terpinggirkan di Negeri Sendiri
Oleh: Fajar Rianto*

Sebagai seorang traveler dengan latar belakang jurnalis yang terbiasa mengejar momen di berbagai belahan dunia, saya sering merasa ada yang ganjil setiap kali mendarat kembali di tanah air. 

Di Singapura, kaki saya adalah raja; di Bangkok, trotoar adalah nadi kehidupan; namun di Indonesia, sepasang kaki sering kali dianggap sebagai beban atau penghalang arus kendaraan bermotor.

Ada sebuah ironi besar yang tersimpan dalam kalender nasional kita yang nyaris tak tersentuh debu: Hari Pejalan Kaki Nasional. Jatuh setiap tanggal 22 Januari, hari itu sebenarnya adalah monumen duka untuk mengenang tragedi Tugu Tani 2012, di mana sembilan nyawa melayang saat sedang berjalan kaki. 

Namun, alih-alih menjadi momentum refleksi infrastruktur, hari tersebut hanyalah catatan kaki yang kalah bising oleh klakson di jalan raya. Kita punya hari perayaannya, tapi kita tidak punya ruang untuk merayakannya dengan aman.

Baca Juga:
Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

 

Paradoks Pejalan Kaki Musiman

 

Ketimpangan ini menciptakan fenomena "pejalan kaki musiman". Banyak warga kita yang dengan bangga memamerkan statistik 10.000 langkah di aplikasi ponsel saat berlibur ke luar negeri. 

Baca Juga:
Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Mereka sanggup menyusuri rute dari Orchard Road hingga Marina Bay di Singapura tanpa keluh, atau menelusuri trotoar lebar di Kuala Lumpur, Malaysia yang terintegrasi dengan transportasi publik.

Lebih dari sekadar infrastruktur, di negara-negara tersebut pejalan kaki merasakan kepastian martabat; pengendara kendaraan sangat hormat dan memprioritaskan keberadaan manusia.

Saat kita berdiri di tepi zebra cross, kendaraan akan melambat dan berhenti dengan sukarela untuk memberi jalan, sebuah gestur sederhana yang membuat pejalan kaki merasa berharga.

Namun, begitu kembali ke tanah air, jarak seratus meter menuju minimarket pun harus ditempuh dengan sepeda motor. Ini bukan sekadar soal malas, melainkan soal rasa aman. 

Berjalan kaki di Indonesia terasa seperti olahraga ekstrem karena kita harus berebut ruang dengan tiang listrik yang salah tempat, lubang drainase yang menganga, hingga motor yang nekat menyerobot jalur pedestrian.

Belajar dari Tetangga

Negara tetangga seperti Thailand telah membuktikannya melalui revitalisasi besar-besaran di Bangkok, di mana trotoar kini dibuat lebih lebar dan inklusif bagi difabel.

Lebih dari sekadar trotoar yang rata, mereka membangun jaringan jalan interkoneksi dan jembatan penyeberangan yang aman, terintegrasi langsung dengan transportasi publik seperti BTS Skytrain. 

Bagi pejalan kaki, kondisi ini menciptakan aliran pergerakan yang tanpa hambatan; mereka dapat berpindah antar gedung di atas jembatan layang khusus (skybridge) yang sejuk, bersih, dan terpisah sepenuhnya dari polusi serta hiruk-pikuk lalu lintas di bawahnya.

Hal serupa juga terjadi di Johor, Malaysia, di mana pusat kota kini semakin ramah pejalan kaki dengan penataan jalur pedestrian dan jembatan penghubung yang aman.

Inisiatif ini tidak hanya melindungi raga pejalan kaki, tetapi secara otomatis menggerakkan ekonomi lokal karena orang lebih banyak kesempatan untuk berhenti dan berinteraksi saat mereka berjalan kaki.

Dosa Infrastruktur dan Hak Dasar

Sementara itu di Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak dipungkiri ada sebuah paradoks yang menyesakkan ketika kita berjalan kaki melintasi jalan raya beraspal ataupun beton. 

Di saat kendaraan dipacu kencang di atas mulusnya jalanan, raga manusia justru dipaksa menepi, seolah-olah napas warga tidak lebih berharga dari putaran roda mesin. 

Sebagai contoh, jalan raya yang membelah kemegahan kaki Gunung Merapi. Jalan Palagan Tentara Pelajar Sleman, mulai dari Monumen Jogja Kembali (Monjali) naik menuju Pulowatu, Pakem, Sleman. 

Jalur padat selebar 6 meter ini sama sekali tidak menyediakan ruang bagi pejalan kaki, memaksa warga lokal bertaruh nyawa di bahu jalan yang sempit setiap harinya.

Begitulah jika kita menilik satu titik di arah utara, ini adalah bukti nyata bagaimana perencanaan masa lalu menyisakan "cacat logika". Jalur ini dikembangkan secara masif pada pertengahan tahun 90 an namun abai terhadap eksistensi manusia.

Saat itu dan mungkin hingga hari ini ada dalih klasik yang membayangi: kekhawatiran bahwa trotoar hanya akan diserobot oleh Pedagang Kaki Lima (PKL). 

Fenomena ini hanyalah puncak gunung es. Karena kemungkinan besar hal serupa juga terjadi di ribuan kilometer jalan baru lainnya di berbagai wilayah negeri ini. Di mana aspal atau beton digelar lebar, namun hak pejalan kaki dipangkas habis demi alasan teknis yang dangkal.

Padahal, manfaat berjalan kaki jauh melampaui sekadar perpindahan titik. Secara medis, setiap langkah adalah investasi untuk jantung dan kesehatan mental. Namun lebih dari itu, kota yang ramah pejalan kaki adalah kota yang manusiawi. Harapan kita sederhana: pemerintah harus berhenti memandang trotoar sebagai aksesori tambahan.

Sudah saatnya kebijakan pembangunan tidak lagi dipandu oleh ketakutan terhadap PKL, karena dalih tersebut sebenarnya sudah memiliki payung hukum yang jelas melalui Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penataan dan pemberdayaan pedagang. 

Regulasi ini seharusnya menjadi alat kontrol, bukan alasan untuk meniadakan fasilitas publik. Pemerintah memiliki wewenang penuh untuk menentukan mana lokasi jualan dan mana jalur yang mutlak steril bagi pejalan kaki.

Kita rindu berjalan kaki di negeri sendiri dengan rasa hormat yang sama seperti saat kita berada di mancanegara. Sudah saatnya pembangunan dipandu oleh kebutuhan akan ruang hidup yang sehat dan aman, bukan oleh ketidakmampuan mengelola ketertiban.

Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah kota bukan diukur dari banyaknya mobil mewah, tapi dari seberapa aman warganya bisa melangkah tanpa rasa cemas.

*) Fajar Rianto merupakan seorang traveler dan Jurnalis Ketik.com Biro DI Yogyakarta

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi. (*)

Baca Sebelumnya

Daftar Lengkap Peserta Lolos Seleksi Jalur Prestasi MTsN 1 Kota Malang, Cek Namamu!

Baca Selanjutnya

HEBAT! SMKN 6 Surabaya Produksi 3.000 Porsi Nasi Kebuli untuk Bukber dan Hadiah Kurma Raja Salman

Tags:

opini Penjalan Kaki Fajar Rianto

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar