KETIK, PACITAN – Keberadaan sejumlah sumber air panas di Kabupaten Pacitan selama ini memunculkan berbagai anggapan di masyarakat.
Tak sedikit yang menduga kemunculan mata air hangat tersebut menjadi pertanda adanya aktivitas gunung berapi di bawah wilayah Pacitan.
Namun benarkah Pacitan memiliki sumber air panas karena aktivitas gunung berapi?
Pakar Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Prof. Eko Teguh Paripurno, menegaskan anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Menurutnya, sumber air hangat yang muncul di sejumlah wilayah Pacitan, seperti yang berada di kawasan wisata Banyu Anget, Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari, lebih kuat dipengaruhi aktivitas patahan atau sesar aktif dibanding aktivitas vulkanik.
Baca Juga:
Duh! Dari 8 Ternak Mati, Satu Sapi Antraks Sempat Dijual Daging, Ini Kata DKPP Pacitan"Di dunia ini ekspresi air panas umumnya ada dua. Pertama karena aktivitas magma atau gunung api, kedua karena air mengalir pada zona patahan yang mengalami tekanan tertentu hingga menghasilkan panas. Untuk Pacitan, indikasinya lebih kuat berasal dari patahan, bukan aktivitas vulkanik (gunung berapi)," kata Eko saat kuliah lapangan Program Studi Magister Manajemen Bencana di kawasan Banyu Anget, Senin, 22 Juni 2026.
Eko menjelaskan, secara geologi Pacitan tidak berada dalam jalur gunung api aktif sebagaimana daerah lain di Pulau Jawa yang masuk dalam kawasan busur vulkanik.
Karena itu, kemunculan air hangat di Pacitan dinilai lebih logis dikaitkan dengan aktivitas sesar atau patahan yang membentang di wilayah tersebut.
"Pacitan bukan busur vulkanik aktif. Jadi kalau ditemukan air hangat, peluang terbesar penyebabnya adalah patahan. Ini berbeda dengan daerah yang memang memiliki gunung api aktif," ujarnya.
Baca Juga:
Siswa via Jalur Titipan-Gratifikasi di SPMB Tak Ditoleransi, Dindik Pacitan Ancam Beri SanksiMenurutnya, proses terbentuknya sumber air hangat terjadi ketika air hujan meresap ke dalam tanah melalui rekahan batuan pada zona patahan.
Air tersebut kemudian bergerak ke kedalaman tertentu dan menyerap panas alami dari dalam bumi sebelum kembali muncul ke permukaan.
Fenomena itu, kata Eko, dapat ditemukan di beberapa titik di Pacitan.
Selain Banyu Anget Karangrejo, sumber air hangat juga ditemukan di wilayah Desa Purworejo yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan tersebut.
Keberadaan beberapa titik sumber air hangat dalam satu kawasan justru menjadi petunjuk adanya sistem geologi yang saling terhubung.
"Kalau ada beberapa titik air hangat yang tersebar dalam satu kawasan, kecenderungannya memang berhubungan dengan sistem patahan yang sama. Tinggal dipetakan apakah berada pada satu jalur atau cabang-cabang patahan yang saling berkaitan," jelasnya.
Eko menyebut salah satu patahan terbesar di Pacitan adalah Patahan Grindulu.
Menurutnya, kemunculan mata air hangat di sejumlah lokasi menjadi indikasi bahwa sistem patahan tersebut masih menunjukkan aktivitas geologi.
"Posisi mata air hangat itu menjadi penegas bahwa Patahan Grindulu memang aktif. Aktivitasnya kemudian terdistribusi ke patahan-patahan turunannya yang tersebar di beberapa wilayah," tegasnya.
Meski berkaitan dengan patahan aktif, Eko meminta masyarakat tidak langsung mengaitkannya dengan ancaman bencana semata.
Justru keberadaan sumber air hangat dapat menjadi potensi ekonomi dan wisata yang bernilai tinggi.
Selain dimanfaatkan sebagai objek wisata, fenomena tersebut juga menunjukkan adanya potensi panas bumi yang dapat dikembangkan secara terbatas di masa depan.
"Jangan langsung takut karena ada patahan. Air hangat ini justru sebuah berkah yang menunjukkan adanya potensi panas bumi. Yang penting adalah memahami risikonya dan menyesuaikan pembangunan dengan kondisi geologi yang ada," terangnya.
Ia menambahkan, masyarakat yang tinggal di kawasan yang dilintasi patahan aktif perlu memahami prinsip mitigasi bencana dengan membangun konstruksi yang tahan gempa serta memperhatikan kondisi geologi dalam perencanaan pembangunan.
"Risiko itu tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dikelola. Kita tidak bisa menghilangkan patahan, tetapi bisa mengurangi dampaknya melalui mitigasi yang baik," pungkasnya.(*)