KETIK, PACITAN – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Timur telah menyebarkan 4,8 ton natrium klorida (NaCl) atau garam melalui enam kali penerbangan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan.
Kabupaten Pacitan menjadi salah satu wilayah sasaran karena masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Maksum Purwanto, mengatakan setiap penerbangan membawa sekitar 800 kilogram bahan semai.
OMC yang berlangsung sejak Kamis, 3 September 2026, menyasar sejumlah kawasan pegunungan yang memiliki riwayat karhutla.
“Operasi ini tetap bergantung pada kondisi atmosfer. Jika terdapat potensi awan, baru dilakukan penyemaian untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan,” kata Maksum, Rabu, 9 September 2026.
Baca Juga:
AKBP Agus Sulistianto Raih Ketik Awards, Diakui sebagai Polisi Penggerak Swasembada PanganHasil evaluasi menunjukkan hujan telah turun di sejumlah wilayah Banyuwangi, Malang, Lumajang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan.
Namun, hujan belum merata di seluruh wilayah sasaran.
Di Pacitan, hujan ringan tercatat melalui alat Automatic Rain Gauge (ARG) Sudimoro pada periode pemantauan 6 September 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, mengatakan OMC diharapkan dapat menjaga kelembapan lahan dan kawasan hutan sehingga risiko karhutla dapat ditekan.
Baca Juga:
HUT ke-4 Ketik.com, Kadiskominfo Pacitan Raih Award Akselerator Pembangunan Daerah’’Ini merupakan upaya untuk meningkatkan potensi curah hujan sehingga kelembapan lahan dan kawasan hutan tetap terjaga serta risiko kebakaran dapat ditekan,’’ kata Yagus, Selasa, 8 September 2026.
Menurut Yagus, kondisi vegetasi yang mengering ditambah angin kencang membuat risiko penyebaran api perlu diwaspadai.
Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran terjadi di kawasan hutan Jalan Pacitan–Ponorogo Kilometer 5, Bolosingo, pada Minggu, 6 September 2026, serta di Desa Nanggungan pada Senin, 7 September 2026.
’’Kondisi cuaca saat ini memang perlu diwaspadai. Vegetasi yang kering ditambah angin kencang membuat api lebih mudah menyebar,’’ ujarnya.
OMC Jawa Timur melibatkan Pemprov Jawa Timur, Kementerian Kehutanan, BMKG, TNI AU, Manggala Agni, RAI, dan BPBD Jawa Timur.
Pelaksanaan operasi ditentukan berdasarkan kondisi atmosfer dan keberadaan awan potensial.(*)