KETIK, PACITAN – Kasus dugaan keracunan makanan bergizi (MBG) di Kabupaten Pacitan yang terjadi sejak Kamis, 9 April 2026 memicu keluhan dari para orang tua korban.
Mereka meminta adanya tanggung jawab dari SPPG Sejahtera Kebondalem sebagai pihak terkait, menyusul banyaknya anak keracunan usai menyantap hidangan yang diberikan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinkes Pacitan, drg Nur Farida, mencatat hingga Senin, 13 April 2026 total korban mencapai 139 orang.
Dari jumlah itu, sebanyak 28 pasien disebut masih menjalani rawat inap di rumah sakit dan fasilitas kesehatan setempat.
Baca Juga:
Pasien Faskes di Pacitan Melonjak Pascalebaran, ISPA dan Diare Dominasi Kasus"Untuk total pasien dari awal sejumlah 139. Untuk yang rawat inap hari ini ada 28," kata Nur Farida, Senin, 13 April 2026.
Mayoritas pasien mengalami gejala serupa seperti mual, muntah, dan diare. Bahkan, beberapa dilaporkan sempat mengalami kejang.
Salah satu orang tua korban, Sumarti (28), mengaku anaknya, Ananda Marsya Putry S (9), mengalami gejala tak lama setelah pulang sekolah.
"Anak saya pulang sekitar jam 1 siang, belum sempat ganti baju sudah muntah-muntah," ujarnya.
Baca Juga:
PMII Pacitan Desak SPPG Klarifikasi Menu MBG dan Dugaan Intimidasi Wali MuridIa menyebut kondisi anaknya hingga kini masih lemas dan membutuhkan perawatan intensif.
Menurutnya, banyak korban lain juga mengalami hal yang sama.
"RS penuh semua, penyakitnya hampir sama, mual, muntah, diare. Bahkan ada teman sekelas anak saya sampai kejang," ungkapnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, anaknya didiagnosis mengalami keracunan makanan.
Sumarti bersama orang tua lainnya berharap ada langkah nyata dari pihak terkait.
Mereka meminta tidak hanya permintaan maaf, tetapi juga tanggung jawab atas biaya pengobatan korban.
"Kami minta pertanggungjawaban, jangan hanya minta maaf. Sudah banyak korban," pintarnya.(*)