KETIK, PACITAN – Di balik indahnya bentang alam lereng Gunung Lanang, tersimpan nestapa yang setiap hari harus dijalani warga Desa Punjung, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan. 

Mereka dipaksa melintasi ruas jalan yang rusak parah hingga menyerupai sungai kering demi berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, maupun membawa hasil panen.

Ruas jalan yang menghubungkan tiga desa, yakni Desa Wonogondo, Desa Punjung, hingga Desa Banjarjo sepanjang sekitar 7,5 kilometer itu kini dipenuhi batu-batu tajam setelah lapisan aspalnya mengelupas. 

Bahkan, hampir satu kilometer ruas jalan disebut belum pernah tersentuh aspal.

Saat musim kemarau, debu tebal beterbangan dan mengganggu jarak pandang.

Baca Juga:
Peluang Rehabilitasi ODGJ Pacitan Kini Terbuka Lebar, Warga Dipersilakan Mendaftar

Sebaliknya saat hujan, jalan berubah licin dan semakin berbahaya bagi pengendara.

Salah seorang warga setempat, Mukri, mengatakan, kerusakan paling parah berada di ruas Dusun Ketro hingga Dusun Mudal, Desa Punjung.

"Ini sudah bukan jalan, tapi sungai yang kering," ujarnya menggunakan bahasa jawa kepada Ketik.com, Kamis, 2 Juli 2026.

Ia mengungkapkan, bahwa perbaikan jalan di ruas tersebut sejatinya hampir dilakukan setiap tahun.

Baca Juga:
Tiga SD Jadi Incaran Orang Tua di SPMB Pacitan, Dua Sekolah Hanya Dapat Satu Siswa Baru

Namun, panjang penanganannya hanya sebagian-sebagian, sehingga ketika satu titik selesai diperbaiki, titik lainnya sudah kembali rusak.

Belum mampu mengatasi kerusakan jalan secara menyeluruh.

"2023 dapat pengaspalan, 2024 tidak dapat, 2025 kembali diaspal, dan 2026 infonya mau dapat lagi. Tapi ya gitu, dapetnya cuman pendek-pendek," ungkapnya.

Bagi Mukri dan warga setempat, kerusakan jalan bukan hanya membuat perjalanan menjadi tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan.

Warga harus mengurangi kecepatan kendaraan karena permukaan jalan dipenuhi batu-batu besar yang dapat menyebabkan pengendara kehilangan keseimbangan.

Jalur tersebut merupakan akses utama masyarakat di lereng Gunung Lanang untuk menuju pusat kecamatan maupun mengangkut hasil pertanian. 

Kondisi jalan yang rusak membuat biaya transportasi meningkat, kendaraan lebih cepat rusak, dan aktivitas ekonomi warga ikut terhambat.

Sekretaris Desa Punjung, Purwo Yulianto, mengatakan pemerintah desa tidak pernah berhenti mengusulkan perbaikan jalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Namun, karena status jalan merupakan kewenangan pemerintah kabupaten, realisasi pembangunan sepenuhnya bergantung pada kebijakan daerah.

"Sebenarnya hampir tiap tahun dapat bantuan, berhubung jalannya panjang, yang dibangun di sini, yang di sana sudah mulai rusak," katanya.

Ia menjelaskan panjang ruas jalan yang mencapai sekitar 7,5 kilometer membuat anggaran perbaikan belum mampu menyelesaikan seluruh kerusakan. 

Akibatnya, penanganan dilakukan secara bertahap sehingga kondisi jalan belum pernah benar-benar pulih.

"Sebenarnya setiap tahun selalu diusulkan untuk perbaikan, namun realisasinya tergantung pemerintah daerah," tambahnya.

Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh agar akses menuju kawasan lereng Gunung Lanang kembali layak digunakan. 

"Harapannya dengan jalan yang baik bukan sekadar mempermudah mobilitas, tetapi juga menjadi penopang utama aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan masyarakat," pintanya.(*)