KETIK, SLEMAN – Di balik meja kerja yang dipenuhi tumpukan berkas dokumen kerja dan urusan teknis sumber daya air, Muhamad Nurrochmawardi menyimpan kerinduan yang membuncah pada aroma tanah basah dan dinginnya kabut gunung.
Bagi Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (Kabid SDA DPUPKP) Kabupaten Sleman yang juga seorang pendaki ini, menanjak bukan sekadar hobi, melainkan sebuah ritual "tadabbur" alam untuk membasuh penat dari hiruk-pikuk birokrasi yang melelahkan.
Namun, belakangan ini, sepatu gunungnya lebih banyak terparkir di sudut rumah. Nurrochmawardi mengaku sedang "ngerem" atau mengerem aktivitas menanjak. Bukan karena staminanya luntur dimakan usia, melainkan karena ia sedang menunggu momentum dan keselarasan waktu yang tepat untuk kembali menikmati indahnya lautan awan.
“Mendaki itu cara paling ampuh untuk melepas stres. Tapi bagi saya, melakukannya secara berjamaah itu lebih dapet maknanya. Maqom saya ini istilahnya masih syariat, belum sampai ke tingkat makrifat,” selorohnya sembari tertawa renyah saat berbincang mengenai filosofi pendakiannya, Minggu 10 Mei 2026.
Jiwa Corsa di Jalur Sunyi
Baca Juga:
Perkuat Pengawasan PDAM Tirta Sembada, Bupati Sleman Lantik Kepala Dinas PU Jadi Dewan PengawasBagi pria yang sehari-harinya bergelut dengan manajemen air di Bumi Sembada ini, kehadiran teman yang "sefrekuensi" saat melakukan pendakian merupakan syarat mutlak. Di mata Nurrochmawardi, teman sefrekuensi bukanlah mereka yang sekadar tangguh fisiknya, melainkan mereka yang memiliki hasrat sederhana: berkumpul dalam keakraban untuk menikmati kopi bersama dan mungkin "udud" (merokok) di tempat tertinggi di muka bumi.
Di lingkungan ASN yang kental dengan aturan protokoler, ia mengakui menemukan sosok rekan yang bisa diajak "kotor-kotoran" tanpa sekat jabatan adalah tantangan tersendiri.
"Pasti ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Apalagi sekarang kalau sudah berkeluarga, urusan izin dari pasangan itu jauh lebih menantang daripada menaklukkan jalur pendakian yang terjal sekalipun," ungkapnya masygul.a
Baca Juga:
Alarm Bahaya! Gangguan Mental di Malang Raya Meningkat, Pemicunya Berbagai FaktorRasa rindu itu biasanya menyerang saat kesunyian malam menerpa di sela waktu istirahatnya. Ia kerap teringat memori "jiwa corsa" sebuah ikatan persaudaraan yang lahir dari kebersamaan saat berjuang menuju puncak. Baginya, gunung adalah satu dari sedikit tempat di mana pangkat dan atribut kedinasan luntur oleh tetesan keringat yang sama.
Pesan dari Puncak untuk Hilir
Sebagai pejabat yang bertanggung jawab atas urusan air, Nurrochmawardi melihat ada benang merah yang sangat kuat antara kegemarannya mendaki dengan tugas profesinya. Ia memiliki pandangan kritis soal krisis air yang sering terjadi di wilayah hilir Sleman. Menurutnya, masalah air sebenarnya bukan terletak pada jumlah debitnya, melainkan pada karakter manusianya sendiri.
"Pada dasarnya air itu jumlahnya tetap sama. Manusianya saja yang seringkali serakah," tegasnya.
Filosofi mendaki pun ia transformasikan ke dalam gaya kepemimpinannya. Baginya, mengelola keruwetan irigasi membutuhkan niat dan mental yang kuat, bekal yang cukup, serta pemahaman medan yang mumpuni. Jika semua petunjuk diikuti dengan disiplin, maka keselamatan dan nikmat niscaya akan didapat sebuah prinsip yang ia pegang teguh saat memimpin stafnya menghadapi "jalur terjal" pekerjaan.
Refleksi di Balik Keheningan
Mendaki juga menjadi ruang kontemplasi bagi Nurrochmawardi untuk memandang dunia dengan lebih sederhana. Di titik tertinggi, ia menyadari bahwa urusan duniawi hanyalah senda gurau semata. Sebelum fisik kembali menapaki puncak, ia percaya bahwa misi konservasi yang paling hakiki adalah menanam pohon di hati. Sebab, tanpa kesadaran yang tumbuh dari dalam jiwa, upaya menjaga alam hanya akan menjadi seremonial belaka.
"Mendaki adalah kegiatan mentadabburi alam. Tidak semua orang paham indahnya ciptaan Tuhan, maka kita yang paham sepatutnya mendorong yang lain untuk menjaga lingkungan," ungkapnya.
Untuk menjaga kebugaran di tengah masa "cuti" mendakinya, ia rutin berjalan kaki selama 30 menit setiap pagi sebelum memulai aktivitas di kantor. Jika esok ada kesempatan untuk kembali memanggul tas gunung (carrier), hal pertama yang ia siapkan adalah kantong sampah untuk membersihkan jalur. Baginya, kepedulian pada hal sepele adalah kepuasan batin. Satu impian yang masih mengganjal adalah menanam pohon secara fisik di ketinggian, sebagai simbol dari niatnya yang sudah lebih dulu menanam pohon di hati.
Bagi Nurrochmawardi, solusi atas masalah hidup justru sering muncul bukan di balik meja kantor, melainkan saat ia berdiam dalam keheningan malam di depan tenda. Di bawah siraman cahaya bintang, ditemani kepulan asap rokok dan secangkir kopi panas, ia bergulat dengan pikirannya sendiri untuk mencari jalan terbaik bagi kemaslahatan orang banyak di bawah sana. (*)