KETIK, PALEMBANG – Cuaca panas yang melanda wilayah Sumatera Selatan serta terjadinya penurunan curah hujan menandakan masuknya awal musim kemarau.
Hal tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang adalah Siswanto, S.T., M.Si melalui V. Sinta Andayani, M.T.,Koordinator Bidang Observasi dan Informasi di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Rabu, 3 Juni 2026.
"Faktor penyebab penurunan curah hujan dan awal musim kemarau adanya aktivitas Monsun Australia yang sudah aktif. Fenomena ini merupakan periode musim timuran yang menandakan wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) telah memasuki musim kemarau,"kata V Sinta saat di hubungi via Whatsapp.
Dia juga menjelaskan Monsun Australia (atau Monsun Timur) adalah fenomena angin periodik yang bertiup dari Benua Australia menuju Benua Asia. Angin ini umumnya terjadi pada periode April hingga Oktober, yang bertepatan dengan musim dingin dan sistem tekanan tinggi di Australia.
Pengaruh Monsun Australia di Indonesia, angin ini membawa massa udara yang kering dan minim uap air karena melewati wilayah gurun dan daratan Australia. Kehadiran monsun ini menjadi salah satu indikator utama peralihan menuju musim kemarau.
Baca Juga:
Bediding Rambah Pacitan, Dua Kecamatan Ini Bisa Rasakan Suhu hingga 15 Derajat Celsius"Pola angin saat ini bersifat divergensi (menyebar). Pola ini kurang mendukung pertumbuhan awan-awan hujan,"Ungkapnya
Selain itu, musim kemarau kali ini diprakirakan dibarengi dengan aktifnya fenomena El Niño di Samudra Pasifik. Saat ini statusnya berada pada fase lemah menuju sedang.
Seperti kondisi curah hujan di wilayah Indonesia timur secara umum, curah hujan yang rendah.Sedangkan, untuk pulau Sumatera sendiri, khususnya bagian tengah, masih terdapat potensi hujan dalam beberapa hari ke depan.
"Namun, intensitasnya diprakirakan akan mulai menurun."Jelas V Sinta
Baca Juga:
Mengenal Fenomena Bediding, Saat Siang Terik tapi Malam Terasa MenggigilTambahnya, pihak BMKG menghimbau terkait potensi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) karna, wilayah Sumsel pada dasarnya sangat rentan terhadap potensi Karhutla, terutama pada musim kemarau yang dibarengi dengan fenomena El Niño.
"Oleh karena itu, seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan antisipasi sejak dini guna mencegah munculnya kebakaran hutan dan lahan,"harapnya.(*)