KETIK, YOGYAKARTA – Empat astronot yang tergabung dalam misi Artemis II berhasil kembali ke Bumi setelah menuntaskan perjalanan 10 hari mengelilingi Bulan. Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat peluang manusia kembali mendarat di Bulan, tetapi juga membuka ruang bagi Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan riset dan teknologi antariksa.
Misi Artemis II mencatat tonggak penting dalam eksplorasi luar angkasa modern. Para astronot mendarat dengan selamat pada Jumat, 10 April 2026 lalu, setelah menyelesaikan misi orbit Bulan selama 10 hari.
Sebagai informasi, Artemis II merupakan misi penerbangan berawak pertama dalam program Artemis milik NASA yang diluncurkan pada April 2026. Misi ini membawa empat astronot—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen—menggunakan kapsul Orion yang diluncurkan oleh roket Space Launch System (SLS). Penerbangan ini menjadi misi manusia pertama yang melampaui orbit rendah Bumi sejak 1972, sekaligus menguji berbagai sistem penting, termasuk pendukung kehidupan di luar angkasa.
Dosen Departemen Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Dwi Satya Palupi, menilai capaian tersebut menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan era Program Apollo yang berlangsung lebih dari 50 tahun lalu. Ia menyebut teknologi penerbangan antariksa saat ini jauh lebih matang dan aman, terutama dalam fase kritis saat wahana keluar dan masuk atmosfer Bumi.
“Saya kira misi kali ini ke Bulan merupakan lompatan besar dibandingkan era Program Apollo, karena sekarang teknologi sudah melalui banyak evaluasi dari kegagalan-kegagalan sebelumnya,” ucapnya, Kamis, 23 April 2026.
Baca Juga:
BRIN Pastikan Objek Terang di Langit Lampung Sampah Antariksa, Bukan Rudal Nyasar Perang IranIa melihat keberhasilan ini memperbesar peluang manusia untuk kembali menjejakkan kaki di Bulan. Namun, ia mengingatkan masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti ketiadaan atmosfer, suhu ekstrem, paparan radiasi kosmik yang tinggi, serta keterbatasan oksigen dan sumber daya penunjang kehidupan.
“Tantangan di luar angkasa justru akan mendorong penelitian-penelitian baru, agar manusia bisa sampai ke sana dengan selamat dan bertahan hidup di sana,” ujarnya.
Keberhasilan misi ini juga membuka peluang besar bagi Indonesia, khususnya melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), untuk ikut berkontribusi dalam eksplorasi antariksa. Dwi menyebut sejumlah bidang strategis yang dapat dikembangkan, mulai dari teknologi kedirgantaraan, satelit, sistem transmisi data, hingga material yang mampu bertahan di lingkungan ekstrem luar angkasa.
“Teknologi kedirgantaraan, satelit, dan transmisi data sekarang bukan lagi hal yang tidak mungkin, tapi sudah menjadi kebutuhan yang nyata,” tuturnya.
Baca Juga:
Fenomena Langka! Diprediksi Akan Ada Dua Ramadan dan Satu Idul Fitri di Indonesia pada Tahun 2030Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam memperkuat riset dan inovasi, termasuk mendorong kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional dengan NASA. Menurutnya, kerja sama internasional akan membuka akses bagi peneliti muda Indonesia untuk terlibat langsung dalam proyek global.
“Sepertinya dukungan tidak hanya sebatas pendanaan saja ya, tetapi juga perlu diarahkan pada pembukaan akses kolaborasi dengan lembaga internasional agar peneliti muda Indonesia dapat terlibat langsung dalam riset antariksa,” pungkasnya. (*)