Menyusuri Misteri Kampung Pitu di Pacitan yang Penuh Nuansa Mistis

Jurnalis: Al Ahmadi
Editor: M. Rifat

15 Agt 2023 01:57

Thumbnail Menyusuri Misteri Kampung Pitu di Pacitan yang Penuh Nuansa Mistis
Salah satu rumah warga di Kampung Pitu Pacitan, (13/8/2023). (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

KETIK, PACITAN – Dusun Krajan Kidul, Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan terdapat sebuah daerah bernama Kampung Pitu (Tujuh) yang kini masih menjadi misteri bagi sebagian masyarakat.

Ketik.co.id melakukan penelusuran melewati jalan begitu sunyi, curam dan bergeronjal, sekelilingnya terdapat tebing, hutan dan ladang warga. Jaraknya dari pusat kota sekitar 16 kilometer, yang memakan waktu 26 menit perjalanan.

Kabar soal keberadaan Kampung Pitu itu sudah berlangsung cukup lama sekitar tahun 2021. Banyak cerita yang berkembang dari berbagai sumber. Mulanya dikenal oleh banyak orang, semenjak dilakukannya vaksinasi Covid-19 yang menyasar wilayah terpencil. Termasuk Kampung Pitu.

Pengaruh informasi di internet, kini wilayah tersebut sering dikunjungi pelancong, pejabat pemerintah maupun pemerhati wilayah, berjumlah ratusan.

Baca Juga:
Anak Dianiaya di Rumah Nenek, Ibu di Pacitan Tempuh Jalur Hukum-Lapor Polda Jatim

Tujuannya pun bermacam-macam, mulai dari ingin naik jabatan, dapat rezeki lancar, kegiatan spiritual, berziarah, hingga mencari mustika. Ada pula yang sekadar berkunjung.

Sesepuh Kampung Pitu, Solekan (66) bercerita sesuai kabar yang beredar, percaya atau tidak bahwa sudah sejak ratusan tahun silam Kampung Pitu belum pernah dihuni lebih dari tujuh kepala keluarga (KK) sesuai namanya. Padahal, mereka juga tak menutup diri alias bebas tinggal, merantau, atau menikah dengan pendatang.

Foto Kampung Pitu begitu sunyi hanya terdapat tujuh warga yang aktivitas di halaman rumah. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)Kampung Pitu begitu sunyi hanya terdapat tujuh warga yang aktivitas di halaman rumah. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

"Ya dikenalnya karena cuma ada 7 (KK) di sini, lebih tepatnya tidak pernah dihuni lebih dari 10 keluarga, selalu di bawahnya. Untuk saat ini yang tinggal di sini sekitar 21 orang, aslinya 23, tapi yang dua masih anak sekolah, terus ngekos di kota," katanya, Minggu, (13/8/2023).

Baca Juga:
Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Begitu pula, ungkap Dia, hanya terdapat 7 bangunan rumah yang masih dihuni. Ditambah ada satu masjid tua, pun diyakini masyarakat merupakan peninggalan tokoh Islam ratusan tahun silam.

"Secara kebetulan pas mau nambah, selalu ada yang pergi, atau ada halangan yang membuat pindah. Rumahnya juga ada satu yang sudah membangun, tapi akhirnya ya kosong ditinggal pindah," ucapnya heran. 

Menurutnya, nama asli kampung tersebut mulanya adalah Ngendak. Namun, semenjak dilakukannya giat vaksinasi sekitar dua tahun lalu, kini disebutnya Kampung Pitu.

"Dulu daerah sini namanya 'Ngendak, Dusun Krajan Kidul'. Terus setelah vaksinasi, dan banyak petugas kesehatan datang maupun wartawan. Nah pas waktu itu saya ditanyai ada berapa rumah? saya jawab ada tujuh rumah di sini, setelah itu banyak yang ke sini," ungkapnya bingung.

Sebagian besar warga Kampung Pitu bermata pencaharian sebagai petani ladang dan perantau, kegiatan sehari-hari mereka lumrah laiknya masyarakat pada umumnya. Sekilas memang begitu terpencil, namun untuk layanan pendidikan, kesehatan, jaringan (sinyal), sejauh ini cukup mudah dijangkau.

Kemudian, untuk kebutuhan lainnya, seperti listrik, air bersih, sembako dan alat transportasi hampir keseluruhan masyarakat sudah dapat akses tersebut. Meski belum semaju daerah di wilayah perkotaan, namun warga sudah lumayan bersyukur dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Alhamdulillah saat ini semuanya sudah ada, hanya saja kalau listrik selain pake solar sell (panel surya), kami masih narik kabel dari rumah saudara, ya sekitar 5 gulungan kabel dari sana," ucapnya.

Di samping itu, Kepala Desa Temon Jamiatin menceritakan Kampung Pitu yang hanya dihuni tujuh kepala keluarga tersebut merupakan warisan leluhur yang tidak bisa dilupakan begitu saja.

"Menurut keyakinan masyarakat di sini, apabila lebih dari tujuh kepala keluarga maka biasanya akan terjadi malapetaka hingga sakit. Semua yang tinggal di lingkungan Ngendak Kampung Pitu ini masih mempunyai hubungan darah atau satu garis keturunan," pungkasnya.(*)

Baca Sebelumnya

Dosen Sosiologi UB Sosialisasikan Pemilu Inklusif Bagi Disabilitas di Kota Batu

Baca Selanjutnya

Gedung Grha Wismilak Disita Polisi, Manajemen Menolak

Tags:

Kampung Pitu Pacitan pacitan Arjosari Solekan

Berita lainnya oleh Al Ahmadi

Paket Sinkronisasi dan Monitoring Tata Ruang Pacitan Telan Anggaran Ratusan Juta

14 April 2026 11:18

Paket Sinkronisasi dan Monitoring Tata Ruang Pacitan Telan Anggaran Ratusan Juta

Luas Lahan Sawah Kurang 11 Persen, RDTR Tiga Kecamatan di Pacitan Mandek di Pusat

14 April 2026 10:18

Luas Lahan Sawah Kurang 11 Persen, RDTR Tiga Kecamatan di Pacitan Mandek di Pusat

Anak Dianiaya di Rumah Nenek, Ibu di Pacitan Tempuh Jalur Hukum-Lapor Polda Jatim

13 April 2026 19:55

Anak Dianiaya di Rumah Nenek, Ibu di Pacitan Tempuh Jalur Hukum-Lapor Polda Jatim

Anggaran Cupet, Bakesbangpol Pacitan Cari Penginapan Gratis untuk Karantina Paskibraka 2026

13 April 2026 19:53

Anggaran Cupet, Bakesbangpol Pacitan Cari Penginapan Gratis untuk Karantina Paskibraka 2026

Orang Tua Desak SPPG Tanggungjawab, Korban Dugaan Keracunan MBG Pacitan Tembus Ratusan

13 April 2026 14:32

Orang Tua Desak SPPG Tanggungjawab, Korban Dugaan Keracunan MBG Pacitan Tembus Ratusan

Rem Blong, Turunan Tajam Jalur Rawan Pacitan-Ponorogo Tewaskan Sopir Truk

13 April 2026 13:23

Rem Blong, Turunan Tajam Jalur Rawan Pacitan-Ponorogo Tewaskan Sopir Truk

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar